Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jika Efek Samping Puber Politik adalah Perpecahan, Pancasila Jadi Obatnya

Wijayakusuma , Jurnalis-Sabtu, 29 Juni 2019 |10:30 WIB
Jika Efek Samping Puber Politik adalah Perpecahan, Pancasila Jadi Obatnya
Ilustrasi lambang Pancasila. (Foto: Okezone)
A
A
A

Menurut pria yang menjabat anggota Pembina Yayasan 17 Agustus 1945 itu, sangat penting bagi rakyat Indonesia untuk kembali pada nilai cita-cita sejati politik yang berlandaskan ideologi Pancasila. Sebab, kata dia, politik yang dianut oleh sebuah negara nantinya akan memberikan dampak buruk maupun baik, yang otomatis berimbas pada kesejahteraan rakyat yang bersangkutan.

"Karena politik itu adalah dinamika masyarakat yang bisa mengakibatkan jatuh bangun, maju-mundurnya sebuah negara. Bisa menghancurkan dan memajukan negara. Itulah yang dimaksudkan di dalam ilmu. Itu dikaitkan dengan bagaimana membawa nilai cita, bagaimana kita beragama di dalam Nusantara Indonesia ini seperti apa," jelasnya.

Lipsus puber politik. (Foto: Okezone)

Slamet melanjutkan, para politikus sejatinya menjadi role model paling tepat untuk memberikan contoh tentang berpolitik yang santun dan indah sesuai dengan ideologi Pancasila. Sebab sebagai bangsa yang beradab, para politikus harusnya mampu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan meski saat beradu pandangan politik.

"Sebetulnya itu tugas partai, karena untuk belajar politik itu kan tidak bisa secara sporadis ya, kecuali mereka punya orangtua yang memiliki pemahaman dasar atau orang-orang dari komunitas yang diberikan pencerahan. Sampai di mana para politikus ini membawa kepada pencapaian keadilan sosial bagi masyarakat, dalam arti peradaban maju dan lebih baru, yang lebih memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan berdaulat," celetuknya.

"Lalu persatuan, kok politik membawa arah sektoralitas. Di dalam bangsa ini kok yang sudah bagus dan bersatu, menjadi berlawanan. Bukan persatuan Indonesia, tapi perceraian, lho kok begitu? Tanda-tandanya ya. Inilah yang sejak 1977, saya memang keras untuk mengangkat persoalan ini. Tapi pada saat itu kan suasana politik negara berbeda," terang Slamet.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement