Sebelumnya, Sekretaris Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyuwangi I Komang Sudira menyatakan, penyebaran tudingan itu adalah bentuk kezaliman untuk masyarakat Banyuwangi. Tidak ada umat Hindu di Banyuwangi yang berpikiran seperti itu.
Menurutnya, umat Hindu Banyuwangi hidup penuh toleransi dengan umat agama lain. Tidak ada intimidasi, tidak dikekang, dan bahkan jajaran Pemkab Banyuwangi sering mendatangi undangan di acara-acara Umat Hindu.
"Saya yakin, tudingan itu dibangun untuk kepentingan pribadi. Sebab, umat Hindu Banyuwangi tidak seperti itu. Tindakannya sama saja menzalimi masyarakat Banyuwangi," ucapnya.
Komang menambahkan, pihak yang menulis tudingan 'arabisasi' tidak memahami Banyuwangi. Sebab, daerah ini justru merayakan perbedaan dengan berbagai atraksi seni-budaya khas kearifan lokal. Di sini juga dihuni berbagai suku bangsa. Mulai Osing, Bugis, Jawa, Madura, hingga Tionghoa.
"Kami merayakan setiap kegiatan seni-budaya dengan semarak. Termasuk pada festival yang digagas untuk masyarakat Tionghoa. Semua kami rayakan tanpa memandang agama. Inilah cara masyarakat Banyuwangi untuk guyub. Jadi jangan berpikir untuk memecah belah dengan opini pribadi," pungkasnya.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.