40 Orang Tewas Dalam Serangan Udara yang Menyasar Pusat Migran di Libya

Rachmat Fahzry, Okezone · Rabu 03 Juli 2019 11:56 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 03 18 2074037 40-orang-tewas-dalam-serangan-udara-yang-menyasar-pusat-migran-di-libya-owsD4CFWBn.jpg Pekerja darurat tiba di pinggiran Tripoli utara. Foto/AFP

TRIPOLI - Setidaknya 40 orang tewas oleh serangan udara yang menyasar pusat migran di Libya.

Serangan juga mengakibatkan 80 lainnya terluka dalam serangan yang terjadi di sebuah fasilitas di pinggiran timur ibu kota, Tripoli.

Mayoritas dari mereka yang tewas dilaporkan adalah migran Afrika, mengutip BBC, Rabu (3/7/2019).

Dalam beberapa tahun terakhir, Libya telah menjadi batu loncatan penting bagi para migran yang ingin melakukan perjalanan ke Eropa.

Negara ini telah terpecah oleh kekerasan dan perpecahan sejak lama penguasa Muammar Gaddafi digulingkan dan dibunuh pada tahun 2011.

BacaGarda Pantai Libya Tangkap Kapal Migran Tujuan Eropa

BacaPaus Fransiskus Imbau Pengungsi di Kamp Penampungan Libya Dievakuasi

Osama Ali, juru bicara layanan darurat, mengatakan kepada AFP bahwa 120 migran telah berada di hangar.

Dia menambahkan bahwa lebih banyak orang mungkin telah tewas karena korban tewas sejauh ini adalah data awal.

Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung PBB, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Fayez al-Serra, menyalahkan Pasukan Nasional Libya (LNA).

Dalam sebuah pernyataan, dikatakan bahwa serangan itu telah direncanakan. Ia pun mengutuk dan mengecam serangan tersebyut.

LNA, yang dipimpin oleh orang kuat Khalifa Haftar, telah memerangi pasukan pemerintah yang diakui secara internasional di daerah di mana serangan itu terjadi.

Badan pengungsi PBB mengatakan "sangat prihatin" soal serangan di pusat migran itu.

"Orang-orang ada di mana-mana," kata Dokter Khalid Bin Attia kepada BBC. "Kamp itu hancur, orang-orang menangis, ada trauma psikologis. Itu mengerikan."

Ribuan migran yang mencoba melakukan perjalanan ke Eropa ditahan di pusat-pusat penahanan yang dikelola pemerintah, yang sering terletak dekat dengan garis depan konflik negara itu.

Kondisi buruk dari pusat-pusat ini telah dikritik oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia.

Uni Eropa meningkatkan kerja sama dengan penjaga pantai Libya untuk mencegat kapal-kapal migran.

Namun, mafia penyelundupan manusia berkembang dalam kekacauan politik di negara itu.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini