Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

2025 Bali Diprediksi Mengalami Intrusi, Apa Itu?

Agregasi Balipost.com , Jurnalis-Jum'at, 05 Juli 2019 |10:37 WIB
2025 Bali Diprediksi Mengalami Intrusi, Apa Itu?
Ilustrasi air bersih (Okezone)
A
A
A

DENPASAR – Pada tahun 2025, Bali diperkirakan akan kehabisan air tawar akibat ketiadaan air tanah yang menyebabkan air laut menembus lapisan air tanah atau yang disebut intrusi. Salah satu penyebabnya adalah berkembang pesatnya industri pariwisata yang terlalu menguntungkan.

Setiap harinya, tiga juta liter air atau sekitar 60% dari total konsumsi air di Bali digunakan untuk keperluan industri pariwisata. Jumlah itu tentu saja sangat banyak jika dibandingkan dengan konsumsi air untuk keperluan rumah tangga yang hanya 100 ribu liter setiap harinya. Air sebanyak itu diambil dari tanah.

“Salah satu faktor penyebab meningkatnya kebutuhan air adalah akibat perkembangan pariwisata. Defisit air terjadi karena kebutuhan air lebih besar dari ketersediaan,” ujar Ketua Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Udayana (Unud) Bali, Dr. I Made Sudarma.

Hal ini diperparah dengan semakin berkurangnya lahan terbuka hijau di Bali akibat pesatnya pembangunan hotel, vila, maupun infrastruktur pendukung seperti jalan raya. Jika eksploitasi air tanah yang tinggi dibarengi dengan berkurangnya lahan terbuka hijau, maka ketersediaan air tanah akan berkurang dan menyebabkan terjadinya intrusi air laut.

Air laut akan menembus lapisan air tanah dan bercampur. “Daerah-daerah yang berpotensi terjadinya intrusi air laut adalah Denpasar Selatan termasuk Sanur,” katanya seperti dilansir dari Balipost, Jumat (5/7/2019).air bersih

Sementara itu, daerah yang berpotensi mengalami kekeringan adalah Kabupaten Buleleng, Karangasem bagian Utara, Klungkung bagian Selatan dan Badung bagian Selatan. Namuan, kekeringan ini tidak disebabkan karena pesatnya perkembangan pariwisita, tetapi karena anomali iklim, seperti fenomena El Nino.

“Tidak (bukan faktor pariwisata), kekeringan adalah karena pengaruh faktor iklim. Sebab, akibat perubahan iklim menjadikan musim kemarau akan lebih panjang dari musim hujan dan ini menjadi faktor penyebab kekeringan,” tegas Sudarma.

Berdasarkan kajian PPLH Unud Tahun 2019, dikatakan ketersediaan air di Bali sebanyak 4.720.888.187 m3/tahun. Tingkat ketersediaan air ini ditentukan oleh 3 faktor, yaitu curah hujan, koefisien limpasan dan luas wilayah. Sedangkan, ketersediaan air tergantung dari potensi air hujan, potensi air permukaan, dan potensi air tanah.

Dijelaskan, curah hujan rendah biasanya terjadi pada bulan Juli, Agustus (puncak terendah) dan September. Sedangkan potensi air permukaan, yaitu 4.965,2 juta m3/tahun. Potensi terbesar ada di Tabanan, yaitu sebesar 1.125,7 juta m3/tahun dan terkecil di Denpasar, yaitu 126,8 juta. Potensi cadangan air permukaan untuk 4 danau yang ada di Bali yaitu 1007,90 juta m3.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement