nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dihantam Demo Besar-Besaran, Pemimpin Hong Kong Akui RUU Ekstradisi Telah "Mati"

Rahman Asmardika, Jurnalis · Selasa 09 Juli 2019 12:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 09 18 2076490 dihantam-demo-besar-besaran-pemimpin-hong-kong-akui-ruu-ekstradisi-telah-mati-SWZ2FDrnok.jpg Pimpinan Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam. (Foto: AFP)

HONG KONG – Pemimpin Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam pada Selasa mengatakan bahwa rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi yang memicu demonstrasi besar-besaran dan krisis politik terburuk dalam beberapa dekade di wilayah otonomi China itu, telah “mati”. Lam mengakui bahwa pekerjaan pemerintahannya terkait RUU tersebut telah berakhir dengan “kegagalan total”.

RUU ekstradisi yang akan memungkinkan orang-orang di Hong Kong untuk dikirim ke China daratan untuk diadili, telah memicu demonstrasi yang diwarnai kekerasan dan bentrokan, menyebabkan wilayah bekas koloni Inggris itu mengalami kekacauan.

BACA JUGA: Ribuan Orang Berkumpul di Hong Kong Protes Hukum Ekstradisi China

Pada pertengahan Juni, Lam menanggapi protes yang menarik ratusan ribu orang ke jalan-jalan Hong Kong itu dengan menangguhkan pengajuan RUU itu. Saat ini dia berusaha untuk memulihkan ketertiban di Hong Kong dan mempertahankan jabatannya setelah para demonstran menuntutnya mundur karena pengajuan RUU ekstradisi tersebut.

Pada Selasa dia mengakui bahwa "masih ada keraguan tentang ketulusan pemerintah atau kekhawatiran apakah pemerintah akan memulai kembali proses pengajuan RUU itu di dewan legislatif".

"Jadi, saya tegaskan di sini, tidak ada rencana seperti itu, RUU itu sudah mati," kata Lam dalam konferensi pers sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (9/7/2019).

Meski begitu, dia menolak tuntutan demonstran agar dia mengundurkan diri, mengatakan bahwa pengunduran diri seorang Pimpinan Eksekutif tidak bisa dilakukan begitu saja dan bahwa dirinya masih memiliki keinginan untuk mengabdi dan melayani rakyat Hong Kong.

"Saya berharap masyarakat Hong Kong dapat memberi saya dan tim saya peluang dan ruang untuk memungkinkan kami menggunakan gaya tata kelola baru kami untuk menanggapi permintaan masyarakat dalam ekonomi dan mata pencaharian."

BACA JUGA: Pemimpin Hong Kong Minta Maaf Atas Kontroversi dari RUU Ekstradisi

Pimpinan Eksekutif Hong Kong dipilih oleh komite kecil tokoh pro-China yang mendukung Beijing dan secara resmi ditunjuk oleh pemerintah pusat China. Pengunduran diri Lam akan membutuhkan persetujuan Beijing.

Hong Kong dikembalikan ke China dari pemerintahan Inggris pada 1997 dengan janji otonomi tingkat tinggi. Akan tetapi dalam beberapa tahun terakhir kekhawatiran tentang erosi kebebasan di Hong Kong oleh Beijing semakin besar.

Hong Kong diatur di bawah formula "satu negara, dua sistem" yang memungkinkan kebebasan yang tidak dinikmati di China daratan, termasuk hak untuk berdemonstrasi dan peradilan yang independen.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini