JAKARTA – Setiap mengerjakan sesuatu, Menteri Pariwisata Arief Yahya selalu menggunakan benchmark dan standar global. Karena itu, ketika Danau Toba ditetapkan oleh Presiden Jokowi sebagai satu dari 10 Bali Baru, atau 10 Destinasi Prioritas, maka dicari atraksi apa saja yang membuat danau vulkanik terbesar dan terdalam di dunia ini cepat melejit ke level dunia. Bahkan, Arief Yahya ngotot sampai presentasi sendiri ke markas UNESCO di Paris.
Di UNESCO, Arief Yahya memaparkan progress perkembangan yang sudah dilakukan oleh Pemerintah RI bersama KBRI Paris, Ketua Tim Percepatan Percepatan Geopark dan Ketua Tim Percepatan 10 Destinasi Prioritas. Menurut Menpar, sebuah destinasi agar laku dan dikunjungi oleh wisatawan mancanegara, dia harus punya 3A, Atraksi Akses Amenitas yang kelas dunia pula.
“Danau Toba secara fisik, dia bisa dipromosikan di level dunia, tetapi danau di 8 kabupaten ini belum punya branding kuat sebagai amunisi untuk dipasarkan,” ujar Arief.
Amunisi itulah yang diharapkan datang dari UNESCO, berupa pengakuan dunia oleh lembaga dunia, sebagai UNESCO Geopark. Tanpa stempel itu, terlalu lama dan mahal untuk membranding sendirian.
“Akses, bandara Silangit sudah International Airport. Amenitas, sudah ada hotel berbintang dan akan terus bertumbuh, ketika demand-nya naik. Itu tugas swasta dan pelaku bisnis, untuk mensupply-nya. Atraksi, inilah yang terus kita kejar sampai tercatat di badan PBB itu,” kata Arief Yahya, yang memang ahli marketing itu.