Sekira 60 kilometer di sebelah utara Pengalengan, di Desa Ciwaruga, Bandung Barat, petani lain bernama Asep Sutarta justru mengeluhkan suhu panas yang tinggi selama musim kemarau ini yang menyebabkan sayurannya menjadi kering.
"Kalau siang panasnya terlalu menyengat, otomatis kalau disiram langsung kering. Banyak yang mati," katanya.
Asep mengatakan sudah 15.000 hingga 20.000 tanaman sayurannya mati akibat panas tinggi. "Kan kalau pagi-pagi atau malam itu embun tak ada," ucapnya.
Sudah Diantisipasi
Dikarenakan terjadi setiap tahun, Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultural Jawa Barat, Hendi Jatnika, sudah mengantisipasi dampaknya ke pertanian di daerah itu.
"Ini sudah banyak mengerahkan bantuan alat pompa. Terutama daerah-daerah yang memerlukan air, pompa sudah disebar," jelasnya.

Hendi juga menyarankan kepada para petani yang berada di daerah yang sulit untuk mendapatkan air untuk tidak melakukan areal penanaman baru karena kemarau berdasarkan informasi BMKG sampai dengan Oktober.
"Jadi masih dua bulan lagi, tentunya kalau tanam sekarang nunggu sampai Oktober tidak akan cukup airnya."
Ia juga menambahkan, "Kepada petani yang tanamannya sudah agak tua, setengah umur tanamannya misalnya, itu diupayakan dipertahankan dengan pompanisasi tadi."
Namun, tidak ada data yang pasti terkait berapa banyak lahan pertanian yang terganggu.