“Konsepnya ada interaksi antar manusia. Di Bakkara milenial Malaysia kami ajak tidur di rumah masyarakat. Makan di rumah Kepala Desa. Trekking, rafting, mengolah kopi, sampai menenun,” timpal Rode Ayu Wahyuningputri, Anggota Tim Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi dan Seni Budaya Kemenpar.
Dengan konsep seperti itu, wisata di Bakkara diyakini bisa bernafas panjang. Ada kekompakan yang tercipta. Experience baru yang didapatkan. Ada juga kenangan manis yang dibawa pulang ke Malaysia. Dan semuanya, bisa diceritakan ke milenial Malaysia lainnya.
"Mereka sampai membantu panen bawang penduduk. Membantu petani mendapatkan gabah dengan cara manual. Dan semuanya happy. Saya sampai mendapat laporan ada tim Sinambela yang tidak mau dipisahkan sampai hari terakhir. Jalan sama-sama. Sewa motor sama-sama. Naik mobil pun rela berdesak-desakan meski ada space kosong di mobil lain. Ini luar biasa," sambung Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional I Kemenpar Lokot Ahmad Enda.
Lantas apa yang membuat Bakkara begitu istimewa? Bukankah penginapannya biasa saja? Jauh dari kesan glamor? Tak ada televisi. Tak ada wifi. Semua tamu hanya dihibur oleh sejuknya udara, alam yang keren, budaya dan kuliner Batak buatan masyarakat lokal.
“Kuncinya ada di interaksi dengan masyarakat lokal. Milenial Malaysia jadi bisa mempelajari budaya Batak. Banyak yang terbiasa mengucapkan Horas. Dan ini diucapkan dengan penuh respek,” tutur Kepala Sub Bidang (Kasubid) Bidang Pengembangan Destinasi Area I B, Andhy Marpaung.