nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Balita Stunting di Jatim Masih pada Angka 26,2%

Syaiful Islam, Jurnalis · Kamis 01 Agustus 2019 13:55 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 01 519 2086368 balita-stunting-di-jatim-masih-pada-angka-26-2-tEZEhrhZSa.jpg Foto Ilustrasi Okezone

SURABAYA - Jumlah balita stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak akibat malnutrisi kronik di Provinsi Jatim cukup tinggi, terutama pada kabupaten-kabupaten. Dimana angkanya masih berada di 26,2 persen.

Apalagi stunting adalah penyakit permanen dan irreversible atau tidak bisa diperbaiki, jika anak sudah melewati usia dua tahun. Sehingga kondisi tersebut mendapat penanganan serius dari pemerintah.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi jawa Timur Vitria Dewi, menjelaskan Jawa Timur merupakan provinsi besar, dengan penduduk mencapai 40 juta jiwa, banyak kabupaten tidak terbebas dari stunting.

 Baca juga: Mengintip Cara Jokowi Bekerja untuk Turunkan Stunting

Pemprov Jatim sebenarnya telah melakukan pencegahan stunting. Di antaranya melakukan edukasi dengan pola kultur yang menarik, sehingga yang disampaikan kepada masyarakat bukan hanya sekedar teori tetapi juga dapat dilaksanakan dengan baik.

“Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak akibat malnutrisi kronik masih menjadi tantangan di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, dimana prevalensi balita stunting masih berada di angka yang tinggi, yaitu 26,2%,” ujarnya dalam Sosialisasi Inovasi Intervensi Aksi Cegah Stunting di kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Selasa (30/7/2019).

 Gizi Buruk

Sementara itu, Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyatakan, Pemprov Jatim akan melakukan langkah konkret dengan mengumpulkan instansi terkait, dan menindaklanjutinya berdasarkan pengalaman di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang. Sehingga pencegahan dan penanganan stunting dapat cepat dan tepat sasaran di wilayah Jawa Timur.

“Orang tua juga harus memberikan atensi terkait stunting dan desa diberikan dorongan, serta penguatan Ditjen PDT diharapkan memberikan sinergi untuk program pencegahan stunting ini,” kata Emil.

 Baca juga: Berada di Urutan 4 dunia, Pemerintah Gencar Berantas Stunting

Sementara itu, Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Samsul Widodo, menjelaskan pencegahan stunting penting dilakukan untuk memperbaiki tumbuh kembang serta tingkat intelektual generasi penerus bangsa.

"Selain sosialisasi, pembahasan mencakup membangun komitmen dari masing-masing kepala daerah dan dinas terkait, termasuk dalam pemanfaatan APBD dan Dana Desa secara efektif dalam penanganan stunting di masing-masing daerah,” kata Samsul.

Kesempatan itu juga digunakan Kementerian Desa PDTT beserta jajaran pemerintah terkait dari berbagai kabupaten melakukan pembahasan Rencana Replikasi ‘Aksi Cegah Stunting’ di Provinsi Jawa Timur. Hasilnya, metode pencegahan stunting yang dilakukan Ditjen PDT di daerah tertinggal, Kabupaten Pandeglang akan direplikasi di Jawa Timur.

 Stunting

Metode di Pandeglang dianggap berhasil menurunkan angka stunting sebesar 8,4% hanya dalam kurun waktu enam bulan, yaitu sejak Mei 2018 sampai Februari 2019. Hasil kerja sama dalam pilot project Aksi Cegah Stunting di Pandeglang menjadi bekal sangat penting untuk melakukan upaya pencegahan stunting secara nyata dan strategis di berbagai daerah prioritas lainnya.

"Menyusul Kabupaten Pandeglang, ada 19 kabupaten di Jawa Timur yang akan menjadi lokasi prioritas pelaksanaan replikasi program ini berikutnya. Diharapkan kegiatan pencegahan stunting dapat digencarkan," papar Samsul.

WHO menargetkan pengurangan jumlah anak balita stunting sebesar 3,9% pertahun dari 2010 hingga 2025. Sehingga jumlah balita stunting pada 2025 ditargetkan menyisakan 100 juta dari 171 juta pada 2010 atau berkurang sekitar 40%.

Sebagai salah satu negara yang tergabung dengan WHO, Indonesia memiliki kepentingan mengurangi jumlah anak balita stunting. Beberapa strategi telah dilakukan sejumlah instansi pemerintah, termasuk Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini