Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Penegak Hukum Paling Jujur Itu Benar-Benar Ada, Ia Bernama Hoegeng Imam Santoso

Wijayakusuma , Jurnalis-Sabtu, 03 Agustus 2019 |09:30 WIB
Penegak Hukum Paling Jujur Itu Benar-Benar Ada, Ia Bernama Hoegeng Imam Santoso
Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso (Foto: Ist)
A
A
A

Kemudian pada tahun 1965, atas usulan Sultan Hamengkubuwono IX, Hoegeng diangkat menjadi Menteri Iuran Negara kabinet 100 Menteri era Bung Karno. Presiden dikabarkan menyukai sifat Hoegeng yang jujur dan tidak neko-neko.

Suatu ketika Hoegeng diceritakan bersama menteri lainnya, dipanggil oleh Presiden ke istana. Bung Karno ingin memperkenalkan kawan lamanya saat kuliah di Technische Hoogeschool bernama Ir Konijnenberg seorang warga Belanda. Dikarenakan Konijnenberg akan bertolak ke negaranya melalui Amerika, Presiden lalu menanyakan oleh-oleh apa yang diinginkan para menterinya. Disaat banyak menteri yang meminta ini-itu, Hoegeng malah melontarkan keinginan sederhana.

"Di New York saya punya teman, baru saja saya terima suratnya. Jadi kalau Anda sampai di New York, tolong hubungi teman saya lewat telefon dan bilang suratnya sudah saya terima," ujar Hoegeng kepada Konijnenberg.

Hoegeng

Untuk sejenak Konijnenberg terdiam. Ia merasa heran atas permintaan sederhana Hoegeng. Presiden yang sangat paham dengan karakter Hoegeng, hanya tertawa dan bergumam, "ya begitu, sudah. Dari Hoegeng itu saja".

Kisah inspiratif Hoegeng Imam Santoso berlanjut saat dirinya menjabat sebagai Kapolri (9 Mei 1968- 2 Oktober 1971). Kala itu Hoegeng pernah dirayu oleh seorang pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan. Wanita itu meminta Hoegeng agar tak melanjutkan kasusnya ke pengadilan dengan imbalan suap. Hoegeng yang tak punya waktu berkomitmen dengan suap menyuap, lantas menolak mentah-mentah seluruh hadiah yang ditawarkan si wanita.

Hoegeng sempat terheran lantaran ada beberapa koleganya di kepolisian dan kejaksaan yang memintanya untuk melepaskan wanita tersebut. Belakangan Hoegeng mendapat kabar, wanita itu tidak segan-segan tidur dengan pejabat demi memuluskan aksi penyelundupannya.

Hoegeng juga menaruh perhatian pada kasus perkosaan Sum Kuning yang kala itu diduga melibatkan anak-anak pejabat. Hoegeng bahkan membentuk tim khusus yang diberi nama Tim Pemeriksa Sum Kuning, pada Januari 1971.

"Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak," tegas Hoegeng.

Namun pada tanggal 2 Oktober 1971, Hoegeng diberhentikan sebagai Kapolri oleh Presiden Soeharto, yang mana oleh sejumlah pihak dinilai sengaja untuk menutup kasus ini. Ia sempat ditawari menjadi duta besar di Belgia, namun ditolak karena merasa tidak cocok.

Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004 di usinya ke-82 tahun. Kisah inspiratifnya dituangkan dalam sebuah buku autobiografi "Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan" yang ditulis oleh Ramadhan KH dan Abrar Yuska. Kata-kata mutiara yang terkenal dari seorang Hoegeng, yakni "baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik", sempat dikemukakan kembali oleh mantan Kapolri Jenderal Polisi Widodo Budidarmo.

Sosok Hoegeng yang jujur dan bersih selama mengabdi kepada negara, bahkan sampai dibuat anekdot oleh Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Bahwa hanya ada tiga polisi di Indonesia yang tidak bisa disuap, patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement