Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Adam Malik, Jurnalis yang Sukses Jadi Menteri Meski Tak Lulus Sekolah Dasar

Adi Rianghepat , Jurnalis-Sabtu, 03 Agustus 2019 |10:30 WIB
 Adam Malik, Jurnalis yang Sukses Jadi Menteri Meski Tak Lulus Sekolah Dasar
Adam Malik (foto: Wikipidea)
A
A
A

Pasca-kemerdekaan

 

Usai kemerdekaan, semangat pergerakan dan perjuangan Adam Malik terus berkobar. Lagi-lagi karena kecerdasan dan jiwa kepemimpinannya, Adam Malik lalu ditunjuk para pemuda kala itu untuk memimpin Komite Van Aksi. Saat itu Adam Malik menjabat sebagai Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) untuk periode 1945-1947.

Tak hanya bertindak sebagai ketua, Adam Malik di posisi itu lalu diberi kewenangan untuk menyusun pemerintahan. Dia pun lalu ditunjuk sebagai Ketua II Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), sekaligus merangkap jabatan sebagai anggota Badan Pekerja KNIP.

Adam Malik lalu dilirik banyak mata. Dia pun mendirikan Partai Rakyat serta Partai Murba. Partai itulah yang menghantarnya menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) hasil pemilu 1956.

Tak berhenti di situ, karier Adam Malik terus bersinar. Tidak terbatas di legislatif, namun mulai merangkak ke dunia eksekutif.

Berbekal komunikasi dan diplomasinya yang baik, Adam Malik lalu dipercayakan menjadi Duta Besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Uni Soviet dan Polandia. Inilah awal Adam Malik memulai kiprahnya di dunia internasional dan menjadi seorang diplomat ulung.

Pasca-menjadi duta besar, pada 1962, Adam Malik lalu ditunjuk menjadi Ketua Delegasi Republik Indonesia untuk perundingan Indonesia dengan Belanda terkait Irian Barat yang dilaksanakan di Washington DC Amerika Serikat.

Meniti Karier sebagai Menteri

Kecerdasan, kemampuan memipin dan diplomasi yang dimiliki Adam Malik lalu membawanya menjadi seorang menteri. Dia lalu dipercaya sebagai Menteri Perdagangan sekaligus menjabat sebagai Wakil Panglima Operasi ke-I Komando Tertinggi Operasi Ekonomi (KOTOE) pada Kabinet Kerja IV 1963.

Karier ini pun terus melaju seiring dengan kemampuan yang dimilikinya. Bahkan meskipun rezim berganti, Adam Malik masih tetap ‘dipakai’ dan tetap menjadi pioner pembangunan di negeri ini.

Pada 1964, Adam Malik yang kala itu telah masuk menjadi anggota Partai Golkar setelah mundur dari Partai Murba, mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Delegasi untuk Komisi Perdagangan dan Pembangunan di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Dan pada 1966 Adam Malik lalu diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri II (Waperdam II) sekaligus Menteri Luar Negeri RI di Kabinet Dwikora II.

Berlanjut sebagai menteri sama di Kabinet Ampera I 1966 dan Kabinet Ampera II, berlanjut ke Kabinet Pembangunan I dan Kabinet Pembangunan II.

Kariernya sebagai menteri luar negeri lalu menghantarnya menjadi Ketua Majelis Umum PBB. Dia adalah satu-satunya sosok orang Indonesia saat itu yang bisa mencapai puncak posisi sebagai ketua di Majelis Umum PBB. Adam Malik jugalah sebagai pelopor terbentuknya ASEAN pada 1967 silam.

Pada 1978, Adam Malik Batubara lalu diangkat sebagai Wakil Presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Kiprah seorang Adam Malik sepanjang usianya itulah akhirnya dia dianugerahi berbagai penghargaan antara lain Bintang Mahaputera Kelas IV dan Bintang Adhi Perdana kelas II serta sebagai Pahlawan Nasional, usai Adam Malik menutup mata pada usia ke-67 di Bandung, Jawa Barat pada 5 September 1984 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Setidaknya kiprah dan sepak terjang serta gelora semangat Adam Malik terus tertanam di setiap jiwa generasi anak bangsa ini untuk membangun Indonesia yang lebih maju dan bermartabat.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement