Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Belajar dari Bung Karno, Jabatan Menteri Bukan untuk Gagah-gagahan

Fahreza Rizky , Jurnalis-Sabtu, 03 Agustus 2019 |12:32 WIB
 Belajar dari Bung Karno, Jabatan Menteri Bukan untuk Gagah-gagahan
Presiden RI pertama, Soekarno (foto: istimewa)
A
A
A

Lipsus Menteri

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, mengatakan figur menteri seperti di era Presiden Soekarno sangat dibutuhkan pada era Jokowi. Pasalnya saat ini sulit ditemui pejabat publik yang berkarakter sederhana, jujur dan siap menderita. Kalau pun ada jumlahnya hanya sedikit.

“Ya sangat-sangat diperlukan. Hari ini kan kita sulit menemukan menteri yang jujur dan sederhana. Sifat jujur itu harus dimiliki oleh menteri di era Jokowi. Karena jika menterinya tidak jujur, maka akan hancurlah kementerian yang akan dipimpinnya,” kata Ujang kepada Okezone, belum lama ini.

Baca juga: Pengamat: Gerindra Alami "Turbulensi" Politik & Rugi Besar jika Masuk Kabinet

Menurut Ujang, menjadi menteri bukanlah ajang untuk gagah-gagahan alias menampilkan kesombongan. Pembantu Presiden sesungguhnya bertugas sebagai pelayan masyarakat yang senantiasa mengedepankan kepentingan publik. Sebagai abdi negara, menteri harus siap menderita dan tidak ‘mereguk’ kekayaan dari jabatannya.

“Menteri juga harus sederhana. Harus siap menderita. Karena jadi menteri bukan untuk gagah-gagahan. Bukan untuk mengeruk kekayaan. Dan bukan pula untuk bermewah-mewahan. Menjadi menteri itu untuk melayani. Melayani kepentingan dan aspirasi rakyat Indonesia,” terangnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement