nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Presiden Trump: Kebencian Tidak Memiliki Tempat di Amerika Serikat

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Senin 05 Agustus 2019 09:38 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 05 18 2087730 presiden-trump-kebencian-tidak-memiliki-tempat-di-amerika-serikat-4JDiw2xcCj.jpg Presiden AS Donald Trump. Foto/Reuters

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (5/8) mengatakan "kebencian tidak memiliki tempat" di Amerika Serikat setelah dua penembakan massal menewaskan 29 orang.

Penembakan pertama terjadi di El Paso, Texas pada Sabtu di sebuah supermarket menewaskan 20 orang, dan sembilan lainnya tewas di luar bar di distrik kehidupan malam yang populer di Dayton, Ohio, hanya beberapa jam kemudian.

"Kebencian tidak punya tempat di negara kita," kata Trump, tetapi dia juga menyalahkan penyakit mental atas kekerasan, mengutip AFP, Senin (5/8/2019).

"Mereka benar-benar orang yang sakit mental serius," katanya, meskipun faktanya polisi belum mengonfirmasi hal ini.

"Kita harus menghentikannya. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun ... dan bertahun-tahun di negara kita," lanjut Trump.

Foto/AFP

Di Texas, 26 orang terluka, dan 27 di Ohio, penembak tewas ditembak oleh polisi yang berpatroli.

Baca juga: Pelaku Penembakan Massal Texas Terinspirasi Serangan Masjid di Christchurch

Baca juga: Tidak Ada WNI Jadi Korban dalam Penembakan Massal di Texas

Media setempat mengidentifikasi pelaku sebagai seorang pria kulit putih bernama Patrick Crusius, 21 tahun, meski kepolisian belum secara resmi mengumumkan identitas tersangka.

Foto/Reuters

Sebuah gambar dari kamera CCTV yang beredar online yang memperlihatkan tersangka memasuki Walmart dengan memegang senapan jenis AK, yang dilaporkan media sebagai "AK-47".

Polisi belum mengonfirmasi jenis dan manufaktur senapan yang tampaknya merupakan varian semi-otomatis sipil dari senapan serbu terkenal tersebut.

Pria itu tampak mengenakan celana kargo ala militer, kaos hitam dan penutup telinga.

Foto/AFP

Sebelum melakukan aksinya, diduga pelaku sempat mengunggah sebuah manifesto ke laman berbagi gambar, 8chan.

Dokumen yang kemudian beredar di media sosial dan tengah dipelajari Biro Penyelidik Federal AS (FBI) itu rupanya dipengaruhi oleh manifesto pelaku penembakan masjid Christchurch, yang menewaskan lebih dari 50 orang di Selandia Baru pada Maret. 

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini