Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Penembakan Massal di Texas dan Ohio, Obama Kritik Pemimpin AS Menjalankan Pemerintahan

Rachmat Fahzry , Jurnalis-Selasa, 06 Agustus 2019 |14:08 WIB
Penembakan Massal di Texas dan Ohio, Obama Kritik Pemimpin AS Menjalankan Pemerintahan
Donald Trump dan Barrack Obama. Foto/Reuters
A
A
A

WASHINGTON - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengkritik kepemimpinan pemerintah dalam sebuah tweet yang diposting Senin sore, usai terjadi penembakan di El Paso, Texas, dan Dayton, Ohio, yang menewaskan 20 orang dan puluhan lainnya terluka.

"Kita harus dengan tegas menolak bahasa yang keluar dari mulut para pemimpin kita yang memberi rasa takut dan kebencian atau menormalkan sentimen rasis; para pemimpin yang menjelekkan orang-orang yang tidak terlihat seperti kita, atau menyarankan orang lain, termasuk imigran, mengancam cara hidup kita, atau menyebut orang lain tidak manusiawi atau menyiratkan bahwa Amerika hanya milik satu kelompok,” tulis Obama tanpa menyebut nama dalam pernyataannya.

"Bahasa seperti itu bukan hal baru—itu merupakan akar dari kebanyakan tragedi manusia sepanjang sejarah, di sini di Amerika dan di seluruh dunia," lanjut dia.

Baca juga: Presiden Trump: Kebencian Tidak Memiliki Tempat di Amerika Serikat

Baca juga: Pelaku Penembakan Massal Texas Terinspirasi Serangan Masjid di Christchurch

Foto/Reuters

Sepanjang masa jabatannya selama delapan tahun, Obama menyerukan "hukum senjata akal sehat" tetapi tidak membuat kemajuan yang signifikan, undang-undang kontrol senjata gagal melewati Senat setelah penembakan Sandy Hook.

Obama dan mantan ibu negara Michelle Obama menyampaikan belasungkawa kepada keluarga-keluarga korban.

Pesannya datang setelah pernyataan Trump di Gedung Putih, menanggapi dua penembakan selama akhir pekan.

"Pembantaian biadab ini merupakan serangan terhadap komunitas kita, serangan terhadap bangsa kita dan kejahatan terhadap seluruh umat manusia," kata Trump. "Dengan satu suara, bangsa kita harus mengutuk rasisme, kefanatikan, dan supremasi kulit putih."

Foto/AFP

Karena dua penembakan massal ini telah memicu perdebatan, mantan Presiden AS Bill Clinton juga berkomentar.

"Berapa banyak lagi orang yang harus mati sebelum kita mengembalikan larangan senjata serbu," twitnya.

Pada Senin sore, Departemen Kepolisian El Paso memperbarui jumlah orang yang tewas menjadi 22 dengan belasan lainnya terluka.

Sembilan orang terbunuh di Ohio sebelum polisi membunuh pelaku. Ada 27 orang yang juga terluka dalam penembakan itu, yang terjadi kurang dari 24 jam setelah penembakan Texas.

(Rachmat Fahzry)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement