AKIBAT rentetan kekalahan saat Perang Dunia II dari pihak sekutu pada akhir 1944, Hideki Tojo yang saat itu menjabat perdana menteri Jepang, posisinya digantikan oleh Kuniaki Koiso.
PM Kuniaki Koiso kemudian berpidato dalam sidang istimewa di Ibu kota Kekaisaran Jepang, Tokyo pada 7 September 1944.
Salah satu bagian pidatonya ia menyatakan bahwa Kekaisaran Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia suatu hari.
Hal itu dilakukan agar Indonesia mau membantu Kekaisaran Jepang dalam Perang Dunia II, yang mulai menunjukkan kekalahan dari Amerika Serikat dan sekutunya.
Sehari sebelum janji PM Koiso, seorang Mufti Besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini yang bersembunyi di Jerman, mengumumkan telah mengakui kemerdekaan Indonesia via Radio Berlin berbahasa Arab pada 6 September 1944.
Pengakuan kemerdekaan Indonesia disiarkan selama dua hari berturut-turut mengutip buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri", yang ditulis oleh M Zein Hassan.

Bahkan buletin harian “Al-Ahram” yang terkenal juga menyiarkan berita pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Amin Al-Husaini.
Amin Al-Husaini bersembunyi di Jerman pada permulaan Perang Dunia II karena sedang berjuang melawan imperialis Inggris dan Zionis yang ingin menguasai kota Al-Quds, Palestina.
Amin Al-Husaini kemudian mendesak Negara-negara Timur Tengah lainnya untuk mengakui kemerdekaan Indonesia.
Mesir pun jadi negara selanjutnya yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 22 Maret 1946.
Setelah itu, negara Arab lain yang mengikuti jejak Palestina dan Mesir adalah Suriah, Irak, Yaman, Arab Saudi dan Afghanistan.