nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kabut Asap Kepung Palembang, Jarak Pandang Hanya 700 Meter

Melly Puspita, Jurnalis · Sabtu 24 Agustus 2019 14:22 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 24 610 2096119 kabut-asap-kepung-palembang-jarak-pandang-hanya-700-meter-aEJD4HaYBT.jpg Foto: Manggala Agni/Ist

PALEMBANG - Sudah hampir dua pekan terakhir kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel) tidak kunjung padam, bahkan di beberapa Kabupaten di Sumsel dalam waktu bersamaan terjadi Karhutla.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan, mengimbau masyarakat supaya waspada terhadap kabut asap.

Seiring dengan perkembangan titik panas dan beberapa kawasan Hutbunla (Hutan, Kebun, Lahan) yang terbakar di wilayah Sumsel dan sekitarnya, mengakibatkan semakin tingginya tingkat kekeruhan udara yang diakibatkan aktifitas tersebut.

Kabut Asap Palembang

Menurut Bambang Beny, Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Sumsel Indikasi kekeruhan udara ini ditandai penurunan jarak pandang yang mengganggu aktifitas warga.

"Pagi ini tanggal 24 Agustus 2019 tercatat di Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badarudin II Palembang jarak pandang yang hanya 700 M dengan kelembaban 97 % hal ini dikarenakan adanya fenomena Kabut Asap (Smog)," ucap Bambang Beny.

Smog adalah fenomena campuran antara Smoke (Asap) dan Fog/Mist (Kabut/Halimun), indikasi kabut yang berpartikel basah adalah dengan kelembapan yang relatif tinggi dan cenderung menghilang setelah matahari terbit dan angin.

"Sedangkan indikasi Smoke (Asap) yang berpartikel kering cenderung pedih di mata dan sulit hilang ketika menjelang siang dan akan kembali menebal pada sore hari," lanjut Beny kembali.

Baca Juga: Warga Resah Kabut Asap Mulai Selimuti Kota Palembang

Masih dikatakan Bambang Beny, meskipun terjadi kabut asap di kawasan kota Palembang, hal ini tidak mengganggu penerbangan, namun dapat mengurangi jarak pandang dalam beraktifitas warga yang terkena dampak kabut asap.

"Kabut asap yang terjadi pada pagi ini tidak menganggu penerbangan hanya saja menggangu aktifitas warga terutama transportasi karena mengurangi jarak pandang. Kondisi ini akan bepotensi berlangsung selama musim kemarau seiring aktifitas karhutbunla," kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Sumsel ini.

Untuk itu BMKG Sumsel menghimbau untuk berhati-hati dalam bertransportasi baik darat maupun sungai dan jika bisa untuk menghindari jadwal penerbangan pertama pada pagi hari 04.00-07.00 WIB.

"Adanya Badai Tropis Bailu di Laut Cina selatan mengakibatkan miskinnya uap air untuk pertumbuhan awan di wilayah Sumsel, seiring melemahnya badai tersebut pada tanggal 27-29 Agustus 2019 diharapkan adanya potensi Hujan di wilayah Sumsel walaupun hanya dengan probabilitas 20%," tutup Bambang Beny.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini