nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kalah dalam Pemungutan Suara Brexit, PM Inggris Serukan Pemilu Awal

Rahman Asmardika, Jurnalis · Rabu 04 September 2019 09:17 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 04 18 2100417 kalah-dalam-pemungutan-suara-brexit-pm-inggris-serukan-pemilu-awal-ehC8Kpc8L5.jpg PM Inggris, Boris Johnson. (Foto: Reuters)

LONDON – Perdana Menteri Inggris mengalami kekalahan dalam pemungutan suara di parlemen dari pihak oposisi yang berusaha meloloskan undang-undang guna mencegah terjadinya Brexit tanpa kesepakatan atau no-deal Brexit. Hasil pemungutan suara ini kembali memperlihatkan perpecahan yang dalam di parlemen Inggris dalam isu terkait keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) itu.

Majelis rendah parlemen Inggris, atau yang dikenal sebagai Commons, memberikan suara 328 berbanding 301 untuk kemenangan pihak oposisi yang ingin mengambil alih agenda tersebut. Hasil ini berarti mereka dapat mengajukan RUU yang berusaha untuk menunda tanggal keluar Inggris dari UE.

BACA JUGA: Ini Akibatnya Brexit Tanpa Kesepakatan bagi Ekonomi Dunia

PM Johnson sebelumnya telah menetapkan bahwa Brexit harus terjadi pada 31 Oktober apa pun keadaannya, yang berarti Inggris akan tetap keluar dari UE meski tidak mencapai kesepakatan dengan blok ekonomi Benua Biru itu.

Sebagai tanggapan atas hasil pemungutan suara itu, Boris Johnson mengatakan dia akan mengajukan mosi untuk menggelar pemilihan umum lebih awal. Demikian diwartakan BBC, Rabu (4/9/2019).

Secara total, 21 anggota parlemen dari partai berkuasa Partai Konservatif, termasuk sejumlah mantan menteri kabinet, bergabung dengan partai oposisi untuk mengalahkan pemerintah. Setelah pemungutan suara, Johnson mengatakan para anggota partai pemberontak itu akan segera dipecat, dan didepak dari posisi mereka di parlemen.

Johnson mengatakan bahwa dengan RUU baru, para anggota parlemen akan "menyerahkan kendali" perundingan Brexit ke UE dan menimbulkan "lebih banyak masalah, lebih banyak penundaan, lebih banyak kebingungan".

BACA JUGA: PM Johnson Berhentikan Parlemen Inggris Dua Bulan Menjelang Brexit

Dia mengatakan kepada anggota parlemen bahwa dia tidak punya pilihan selain terus maju dengan upaya untuk menyerukan digelarnya pemilihan umum pada Oktober. Perdana menteri Inggris itu menambahkan: "Rakyat di negara ini harus memilih."

BBC melaporkan bahwa pemerintah bermaksud untuk mengadakan pemilihan pada 15 Oktober, dua hari sebelum KTT penting UE di Brussels. Untuk menyerukan pemilihan di bawah Undang-Undang Parlemen dalam jangka waktu Tetap, Johnson akan membutuhkan dukungan dari Partai Buruh karena ia membutuhkan dukungan dua pertiga dari 650 anggota parlemen Inggris.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini