"Selama ini hambatan investasi ada pada inkonsistensi regulasi, pajak, tenaga kerja, ketersediaan lahan dan kualitas infrastruktur," sebutnya.
"Yang paling signifikan sebenarnya adalah ketersediaan lahan, infrastruktur, teknologi dan akses terhadap teknologi, pembiayaan dan iklim usaha. Itu yang harus kita cari solusinya,” pinta Suharyo.
Sebagai bahan pertimbangan pemerintah, Suharyo mengajukan usulan kebijakan investasi seperti halnya penyediaan lahan bagi perluasan produksi, menyediakan infrastruktur pendukung, mempercepat perluasan dan peningkatan kapasitas pelabuhan, peningkatan produktivitas, menghapus bea masuk atas impor beberapa produk dan penguatan kemampuan pemasaran. Contoh konkret bentuk Food Estate terutama corn estate sebagai salah satu alternatif.
"Investasi dengan ekstensifikasi bisa dilakukan baik dengan pola inti plasma, maupun kerjasama penuh dengan petani," ucap Suharyo.
Seorang pengusaha tepung tapioka asal Surabaya, Alex menyatakan pentingnya teknologi sebaik mungkin untuk meningkatkan income petani. Penting untuk meningkatkan teknologi perbenihan, teknologi pemupukan, tapi yang paling penting teknologi pascapanen. Dengan adanya teknologi ini, bisa menghasilkan keuntungan lebih besar.
“Dengan teknologi budidaya, seperti halnya di lahan kami dari 1 hektar sebanyak 5.400 batang bisa menghasilkan 150 ton singkong," jelasnya.
Tepung tapioka ini diolah lebih lanjut menjadi beras analog. Pasar beras analog sangat besar, bahkan International Diabetes Federation (IDF) membuka peluang kebutuhan akan beras analog ini.
"Target kami bisa mensuplai beras analog untuk diabetes dengan produksi 25 ton per hari. Kami siap bekerjasama dan meningkatkan pendapatan petani dengan upaya bersama meningkatkan teknologi pascapanennya,” tandas Alex. (adv)
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.