Hingga akhirnya dirinya tiba di daerah Mojokerto. Saat tiba di daerah Mojokerto, Afuk pun mengkontak sebuah nomor yang tertera di stiker dengan tulisan Bang Benk (club' sepeda motor). Dan ternyata orang dihubungi itu masih saudara dari pemilik STNK dan SIM dan Afuk diminta untuk menunggu di depan koramil.
"Karena kasihan sama saya, saya pun diminta untuk menunggu di depan Koramil. Cukup lama saya menunggu sampai tiga jam, sebelum akhirnya pemilik STNK dan SIM itu pun datang ketempat saya menunggu," terangnya.
Akhirnya Afuk bertemu dengan pemilik STNK dan SIM. Setelah mengembalikan SIM dan STNK, ia meneruskan perjalanan pulang ke Solo. Ia mengaku diberi sejumlah uang oleh pemilik STNK dan SIM, namun ditolak, karena tujuannya mengembalikan STNK dan SIM bukan untuk mencari uang. Dirinya sudah cukup puas mendapatkan uang dari uang rongsokan yang ditekuni tiap hari.
Ia pun bercerita, selama perjalanan menuju Mojokerto, dirinya tiga kali mengganti rantai sepeda, pertama saat berangkat ke Mojokerto, lalu dua kali mengganti rantai saat kembali ke Solo.
Menurut Afuk, selama perjalanan balik ke Solo, dirinya selalu saja ada yang mengawalnya. Pengendara sepeda motor itu mengatakan, kalau dirinya satu club motor dengan pemilik STNK dan SIM yang dikembalikan. Bahkan, saat dirinya ingin membayar biaya mengganti rantai sepeda ontelnya sebesar Rp5 ribu sudah dibayarkan.
"Saya tak tahu namannya siapa. Katanya satu club' sama yang STNK dan SIM yang saya kembalikan. Keduannya itu dimintai tolong untuk memastikan saya sampai di rumah. Bahkan perjalanan saya sampai di rumah pun di ambil gambarnya," ujar Afuk.
Menurut Afuk, dirinya tiba di rumah kembali pada Sabtu pagi. Meskipun uang saku yang dibawanya habis, namun Afuk merasa puas sudah mengembalikan STNK dan SIM pada pemiliknya.
"Katanya pemilik STNK dan SIM mau main ke tempat saya. Kalau mau datang ke sini, silahkan saja. Kalau datang ke sini, tak usah bawa apa-apa, karena saya hanya ingin mendapatkan hadiah dari Tuhan saja," pungkasnya.
(Awaludin)