JAKARTA - Kondisi keamanan Indonesia tengah diuji dalam beberapa peristiwa belakangan. Isu SARA yang dihembuskan di media sosial menyulut konflik luas di Papua dan Papua Barat.
Konflik di berbagai daerah menjurus pada dimensi baru penanganan keamanan di dalam negeri, di mana konflik biasanya dihembuskan melalui platform media sosial untuk menyulut emosi masyarakat. Ancaman tersebut pernah dihembuskan beberapa jenderal TNI sebagai "Perang Modern".
Baca Juga: Sosok Menteri Harus Miliki Tiga Kecerdasan Ini untuk Bantu Jokowi Bangun SDM
Pembina Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Wibisono menerangkan, ancaman "Perang Modern" akan semakin nyata di Indonesia. Perang tersebut bukan lagi melalui perang fisik, namun juga ideologi yang disebar melalui perkembangan teknologi.
Menurut Wibosono, konsep "Perang Modern" digagas oleh dirinya, Menhan Ryamizard Ryacudu dan Pendiri Universtitas Pertahanan (Unhan) Letjen Prof Syarifudin Tippe. Pengenalan Perang Modern sendiri digagas lewat penerbitan buku “Bangsa indonesia terjebak Perang Modern” di tahun 2004.
Untuk itu, ia menilai, sosok Menteri Pertahanan haruslah figur yang berpengalaman dan ulung dalam melakukan negosiasi perdamaian. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri memastikan penyusunan Kabinet Kerja Jilid II memiliki komposisi jabatan 45 persen orang-orang dari kader partai politik dan 55 persen lagi dari kalangan profesional.
Komposisi tersebut solah menyiratkan kalangan profesional untuk bisa menarik hati presiden terpilih periode 2019-2014 tersebut. Berbagai pihak, mulai dari berlatar sipil, pengusaha hingga militer menyiratkan keinginan untuk masuk Kabinet Kerja Jilid II.
Untuk itu, ia menilai, sosok Menteri Pertahanan haruslah figur yang berpengalaman. Namun Wibisono enggan untuk mengandai diri menjadi menteri, ia justru merekomendasikan sosok Syarifudin Tippe yang menurutnya memiliki syarat yang lebih dari cukup untuk menjadi menteri pertahanan.