Sekadar informasi, Syarifudin Tippe dikenal sebagai salah satu dari sedikit Perwira TNI yang punya karir nyaris sempurna. Sebagai tentara yang ‘berotak cair’ Syarifudin tak kesulitan menempuh pendidikan S-1 hingga S3 dan menyandang gelar sebagai professor atau guru besar serta menduduki jabatan rektor di UNHAN.
Karir militer pria kelahiran 7 Juni 1953 juga terbilang cukup bersinat dengan berhasil menduduki posisi-posisi penting di TNI, khususnya angkatan Darat. Syarifudin Tippe ini juga masih menjadi dosen di Seskoad. Karir milternya dimulai sebagai Komandan Peleton 2 Denzipur 6, Komandan Peleton 1 Denzipur 6, Kasitik Milum Pusdikzi, dan Danrem Kodam 1 Bukit Barisan.
Baca Juga: Hendropriyono Tegaskan Pemilihan Menteri Hak Prerogatif Presiden
Kemampuan Syarifudin Tippe dalam menangani daerah konflik juga sudah terbukti. Pada tahun 1976, ia terlibat langsung dalam operasi penumpasan PGRS Paraku dan pembangunan titik kuat di perbatasan Kalbar dan Malaysia, memimpin operasi Sadar rencong di Aceh pada 1999, menjabat sebagai wakil komandan operasi pemulihan keamanan pada 2001-2002, dan mendampingi Panglima TNI kala itu ke berbagai Negara-negara Asia Timur seperti Jepang, China, Korea Selatan, ASEAN, Kairo, dan puncaknya adalah tatkala ia menjadi anggota Delegasi perundingan RI-GAM di Malaysia dan Helsinki, Finlandia pada tahun 2005.
Sementara itu, Mantan Ketua Badan Intelijen Negara (BIN) Hendropriyono, sosok menteri pertahanan haruslah mencerminkan karakteristik masyarakat Indonesia secara umum. Ia pun menegaskan bahwa pilihan menteri menjadi hak prerogatif dari presiden.
"Pilihan menteri itu hak prerogatif presiden. Pokoknya, sosok menhan itu harus mewakili kamu, saya dan semua masyarakat Indonesia," jelas Hendropriyono.
(Fiddy Anggriawan )