Fakultas Studi Bisnis Keluarga Unpar, Mengembangkan Pengetahuan Bisnis Keluarga Sejak Dini

Wilda Fajriah, Okezone · Rabu 25 September 2019 13:57 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 25 1 2109146 fakultas-studi-bisnis-keluarga-unpar-mengembangkan-pengetahuan-bisnis-keluarga-sejak-dini-tsApEG3Cwn.png Wawancara Metube dengan Prodi dan Ketua Program Bisnis Unpar (Foto: Metube)

JAKARTA - Mengelola bisnis keluarga tidak semudah yang dibayangkan. Perlu generasi profesional dan handal untuk meneruskan dan mengembangkan bisnis keluarga di kemudian hari agar bisnis keluarga tersebut dapat eksis hingga ke generasi-generasi berikutnya.

Ketua Prodi Sarjana Manajemen Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Istiharini mengatakan, sejak dulu perekonomian Indonesia berasal dari bisnis keluarga, untuk itu tantangan mengelola bisnis keluarga yakni bisa memisahkan antara masalah keluarga dengan masalah bisnis.

“Karena terkadang banyak pengusaha yang membawa masalah keluarga ke dalam urusan bisnis dan juga sebaliknya. Jadi hal yang seperti ini yang memicu masalah menjadi bercampur baur,” ungkap Istiharini di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selain para alumni dapat meneruskan bisnis keluarganya, Isharini menjelaskan, mereka juga dilatih untuk bisa menjadi seorang wirausaha. Karena Unpar memiliki mata kuliah kewirausahaan yang hasil akhirnya adalah mereka bisa mengembangkan bisnisnya dan ditampilkan di suatu acara (kegiatan) yang bernama manajemen festival yang disebut dengan manifesto jadi mereka membuat produk dan mereka dapat menjual kembali produknya di pusat perbelanjaan.

“Jadi harapannya mereka lulus nggak sia-sia. Karena kurikulum akan terus kami sesuaikan seiring dengan perkembangan zaman. Selain para alumni dibekalkan pengalaman untuk siap memasuki dunia kerja, kita juga berharap mereka siap belajar, karena ilmu itu kan berkembang pesat, jika sudah lulus dan tidak pernah belajar otomatis akan lupa. Makanya kita tanamkan ke mahasiswa supaya aware dengan situasi,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Program Magister Manajemen dan Doktor Ilmu Ekonomi Unpar, Brigita Meylianti Sulungbudi meminta, semua pihak harus mempelajari bisnis keluarga. Karena banyak kesalahan-kesalahan di masa lalu yang bisa di-highlight untuk tidak diulangi di masa sekarang, dan juga mengambil sisi positif yang bisa ditiru.

“Kalau kita mempelajari bisnis keluarga yang sudah ada, risiko para pelaku bisnis keluarga adalah mereka harus bisa memisahkan antara bisnisnya dengan masalah-masalah yang ada di keluarganya, karena terkadang masalah bisnis dibawa-bawa ke keluarga, dan masalah keluarga dibawa-bawa ke bisnis. Penting juga untuk menentukan masalah yang harus diprioritaskan, bisnis ataukah keluarga,” ungkap Meylianti.

Mey, demikian dia biasa disapa, menjelaskan, seorang anak yang ingin menjadi atau dijadikan Chief Executive Officer (CEO), harus mempersiapkan kompetensi yang unik yang unik yang diperlukan untuk menjadi CEO.

“Soalnya wajar aja kayaknya kalo kita punya uang , kita punya kapital, kemudian kita ingin agar kita dapat menjaga kapital yang kita miliki, ya siapa lagi yang bisa kita percaya kalo bukan keluarga sendiri,” kata Mey.

“Masalah mungkin akan timbul justru jika misalnya saya sebagai pemilik perusahaan, kemudian saya punya tetapi anak saya tidak mau untuk menjadi CEO.Mungkin kalau ada kejelasan antara board of director dan board of family, itu lebih jelas sih. Jadi peran anak di dalam keluarga dan peran anak di dalam bisnis itu harus diatur,” lanjut Mey.

Konstitusi yang mengatur anggota keluarga(family constitution) berfungsi untuk mengarahkan anggota keluarga yang ingin terjun ke dalam bisnis keluarganya. Seorang anggota keluarga akan diarahkan bagaimana dia menjalani kewajiban dalam menjalankan bisnisnya, apa yang bisa dituntut dari dirinya, hingga apa yang akan menjadi hak dia. Sehingga jika suatu saat terjadi konflik, aturannya sudah jelas tentang siapa yang harus bertanggung jawab.

“Jadi misalnya ketika kakak dan adik bertengkar, apakah itu akan dibawa sebagai masalah keluarga ataukah masalah bisnis ” contoh Mey.

Persiapan para suksesor di kemudian hari

Para suksesor tidak bisa mengelola bisnisnya sepanjang abad, untuk itu diperlukan pewaris yang akan menggantikan posisinya dan meneruskan bisnisnya ketika ia pensiun. Namun untuk menunjuk CEO yang selanjutnya diperlukan persiapan yang matang.

Kepercayaan merupakan faktor yang sangat dibutuhkan sebelum memutuskan siapa yang akan ditunjuk untuk menjalankan bisnis kedepannya. Untuk itu sering kali dalam bisnis keluarga seorang suksesor akan menunjuk anaknya sebagai CEO berikutnya. Namun seorang anak harus dalam keadaan siap dengan pembekalan dan keterampilan yang cukup. Hal ini bisa didapatkan oleh anak ketika ia menduduki bangku pendidikan.

Program Studi Bisnis Keluarga Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) yang dibuka sejak 2018 lalu, memiliki visi untuk mempersiapkan para lulusannya menjadi penegelola bisnis keluarga yang baik, atau menjadi profesional yang bergerak di dalam bisnis keluarga.

“Mereka akan mempunyai praktik terbaik yang bisa membantu mereka untuk membangun karir di perusahaan yang membentuk bisnis keluarga atau sebagai penerus yang mengatur bisnis keluarga. Jadi bisa dilihat sebagai seorang profesional yang masuk ke bisnis keluarga atau sebagai bagian dari penerus bisnis keluarga,” tutup Mei. (ADV) (Wil)

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini