nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Luar Biasa, Petani Sragen Bisa Panen Padi Empat Kali dalam Setahun

Jum'at 18 Oktober 2019 19:27 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 18 1 2118821 luar-biasa-petani-sragen-bisa-panen-padi-empat-kali-dalam-setahun-n3JNHwbjrN.jpg Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Suwandi bersama Supandi (Foto: Kementan)

SRAGEN - Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi meninjau persawahan di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Jumat (18/10/2019). Dia menemukan petani lahan tadah hujan yang bisa tanam padi empat kali setahun, yakni Supandi warga Dusun Mlale, Desa Mlale, kecamatan Jenar.

Suwandi menyebutkan di lahan tadah hujan seluas sekitar 1 hektare, Supadi bisa tanam dan panen empat kali dalam setahun berkat fasilitasi sumur submersuble dan pompa air. Hasil perhitungn, penerimaan bersih bisa Suwandi mencapai Rp120 juta.

"Jadi jika dikalkulasi sebulannya petani bisa dapat penghasilan Rp10 juta per hektar. Ini perlu dicontoh dan menjadi model petani di Indonesia, dengan memanfaatkan tanam setelah dipanen, hasilnya menggembirakan bukan?" demikian ujar Suwandi, Jumat (18/10/2019).

Untuk ke depannya, Suwandi menekankan perlunya menerapkan pertanian terpadu. Di samping padi juga ada komoditas lain seperti sayuran, ikan lele, ternak dengan memanfaatkan air tersebut. Kembangkan juga zerowaste, efisiensi input dengan membuat pupuk organik dan pestisida hayati sendiri.

"Manfaatkan air sehemat mungkin. Jangan sampai air dari sumur hanya sekali langsung untuk padi, tapi agar diputar dulu untuk beberapa usaha tani lainnya," terangnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen Eka R. Mumpuni mengatakan, ada 28.000 titik pompa air di wilayahnya. Jumlah ini sangat mencukupi untuk menjamin produksi padi. "Jadi bisa selalu dipakai optimalkan luas tambah tanam padi, terutama di musim kemarau seperti saat ini," beber Eka.

Sementara itu, Supandi menjelaskan komponen biaya usaha tani padi miliknya, yakni investasi awal pembuatan sumur dan pembelian pompa air dua inchi. Biaya untuk pembuatan sumur dan beli pompa ini Rp4,5 juta, kemudian ada juga komponen biaya lainnya.

"Ada biaya listrik pompa, saprodi, olah lahan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan dan panen. Kalau ditotal ya kira-kira perlu biaya Rp15 juta per hektar per musim tanam," ujar Supandi kepada Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi.

"Dengan harga gabah Rp5 ribu per kg dan produktivitas 9 ton per hektare, hitungannya penerimaan bisa mencapai Rp45 juta," tambahnya.

Dalam kunjungan kerja tersebut dilakukan pertemuan dan memberikan arahan kepada Ketua Gapoktan/Poktan dan penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pembangunan pertanian di Kecamatan Jenar.

Selanjutnya kunjungan lapangannya ke petani di daerah sentra jagung tumpangsari di areal Perhutani yang saat ini sudah olah tanah dan persiapan tanam, lahan dan benih sudah siap, sembari menunggu turun hujan. (adv)

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini