nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Serangan Harimau Tewaskan 4 Orang di Riau

Banda Haruddin Tanjung, Jurnalis · Jum'at 25 Oktober 2019 19:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 25 340 2121818 serangan-harimau-tewaskan-4-orang-di-riau-LIxXpXYsQy.jpg Ilustrasi harimau. (Foto: WWF)

PEKANBARU - Konfik antara manusia dan harimau sumatera (Panthera Tigris Sumaterae) di Kabupaten Inhil, Riau masih berlanjut. Hingga kini sudah empat warga tewas diterkam si raja hutan. Terbaru, harimau sumatera menyerang penebang kayu akasia untuk industri kayu dan pulp bernama Wahyu (19) di Kecamatan Plangiran.

Korban merupakan pekerja dari PT Kencholin, kontraktor PT RIA, anak perusahaan Sinarmas Group. Korban diserang pada 24 Oktober 2019 sore. Ini menambah daftar panjang kematian manusia akibat serangan harimau.

Sebelumnya pada 26 Agustus 2019, seekor harimau sumatera juga menyerang warga bernama Indra (36). Korban diserang harimau di sebuah hutan di Dusun Sinar Danau, Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran.

Penyerangan paling heboh melihatkan harimau bernama Bonita. Pada 3 Januari 2018, seorang warga bernama Jumiati, karyawati PT THIP (Tabung Haji Indo Plantation) tewas diserang di wilayah Plangiran. Saat kejadian, pekerja perusahaan sawit asal Malaysia sedang mengecek pohon sawit. Korban tewas setelah diterkam dan sebagain tubuhnya dimangsa. Kemudian pada 10 Maret 2018, harimau Bonita kembali menyerang warga bernama Yusri.

Harimau Bonita.

Bonita terus menebar teror dengan menyerang warga. Belakangan petugas menangkap harimau betina dan merelokasinya ke Pusat Rehabilitasi wilayah Sumatera Barat. Bonita sudah dikembalikan ke alam liar setelah hampir setahun direhabilitasi. Bonita diduga melakukan penyerangan karena anaknya ditangkap warga.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau sejauh ini sudah merelokasi dua harimau yang berkonflik dengan manusia. Selain harimau Bonita, pada 11 November 2018 seekor harimau masuk di Desa Teluk Nibung, Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Inhil. Harimau kemudian direlokasi ke Pusat Rehabiltasi Harimau Sumatera di Darmasraya, Sumatera Barat bersama Bonita.

Konflik disebabkan habitat harimau telah disulap menjadi kawasan kayu akasia milik dua perusahaan industri raksasa kertas dan pulp Sinarmas Group dan Raja Garuda Emas. Selain itu kawasan habitat harimau juga disulap jadi perusahaan raksasa sawit seperti THIP Tabungan Haji Indo Plantation (THIP).

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya (BBKSDA) Riau Suharyono menegaskan, tidak semua harimau harus direlokasi setelah berkonflik dengan manusia. Ini karena kasawan penyerangan harimau masuk dalam kawasan Konservasi Suakamarga Satwa Kerumutan.

"Kita ambil langkah tindak lanjut. Karena memang landscape Kerumutan memang merupakan kantong harimau di Riau. Tentunya akan menjadi sebuah pertimbangan untuk pelestarian harimau. Tentunya tidak bijak jika ada konflik, harimau dievakuasi dipindahkan. Itu memang kawasannya harimau," ucap Suharyono Jumat (25/10/2019).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini