nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

PM Israel Benyamin Netanyahu Didakwa Atas Tuduhan Korupsi, Suap dan Penipuan

Rahman Asmardika, Jurnalis · Jum'at 22 November 2019 09:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 22 18 2133025 pm-israel-benyamin-netanyahu-didakwa-atas-tuduhan-korupsi-suap-dan-penipuan-zfnyiE7hYn.jpg PM Israel Benjamin Netanyahu. (Foto: AFP)

TEL AVIV - Jaksa Agung Israel telah mendakwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan tuduhan suap, penipuan dan pelanggaran kepercayaan yang berkaitan dengan tiga kasus terpisah. Netanyahu dituduh menerima hadiah dari pengusaha kaya dan memberikan bantuan untuk mencoba mendapatkan liputan pers yang lebih positif.

Netanyahu menyebut dakwaan itu sebagai sebuah “upaya kudeta”, dan menyatakan proses pengadilan dalam kasus-kasus tersebut telah “tercemar”. Dia juga menegaskan bahwa dia tidak akan mengundurkan diri dan tidak diwajibkan secara hukum untuk melakukannya.

BACA JUGA: PM Israel Benjamin Netanyahu Didakwa Melakukan Korupsi

Dalam pidato yang disiarkan televisi, dia mengatakan pihak berwenang "tidak mengejar kebenaran, melainkan mengejar dirinya", dan meminta negara untuk "menyelidiki para penyelidik".

Jaksa Agung Avichai Mandelblit mengatakan dia membuat keputusan "dengan berat hati", tetapi mengatakan putusan itu menunjukkan tidak ada yang di atas hukum di Israel.

"Penegakan hukum bukan pilihan. Ini bukan masalah kanan atau kiri. Ini bukan masalah politik," katanya sebagaimana dilansir BBC, Jumat (22/11/2019).

Mandelblit mengatakan pada Februari bahwa ia bermaksud untuk menuntut Netanyahu sehubungan dengan tiga kasus yang dikenal sebagai Kasus 1.000, Kasus 2.000 dan Kasus 4.000, menunggu sidang terakhir yang akhirnya digelar bulan lalu.

Istri Netanyahu, Sara juga tersangkut kasus hukum tahun lalu. (Reuters)

Pengumuman putusan itu dikeluarkan di tengah pertikaian politik di Israel setelah dua pemilihan umum yang tidak meyakinkan pada April dan September.

Pada Rabu, saingan Netanyahu untuk jabatan perdana menteri, Benny Gantz, mengatakan dia tidak dapat membentuk koalisi pemerintahan dengan mayoritas di parlemen. Dia telah diberi kesempatan untuk mencoba setelah Netanyahu sebelumnya gagal melakukannya.

Presiden Reuven Rivlin pada Kamis meminta anggota parlemen untuk menyetujui calon perdana menteri dalam waktu 21 hari dan menghindari pemilihan ketiga dalam setahun yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Setelah dakwaan terhadap saingannya diumumkan, Gantz menyampaikan dukungannya untuk jaksa agung dan lembaga penegak hukum melalui sebuah tweet, mengatakan bahwa itu adalah "hari yang sangat menyedihkan" bagi Israel.

Masalah hukum Benjamin Netanyahu telah mengganggu tahun-tahun terakhirnya masa jabatannya, menyebabkan dia semakin berfokus pada kelangsungan politiknya daripada pada pemerintahan. Hal itu juga dianggap sebagai salah satu alasan terjadinya kelumpuhan politik di Israel.

BACA JUGA: Miliarder Israel Sebut Sara Netanyahu "Perempuan Gila" yang Pengaruhi Pemerintah

Netanyahu telah berusaha memunculkan undang-undang baru yang memberinya kekebalan dari penuntutan. Itu adalah salah satu faktor pendorong dua pemilihan terakhir negara itu, dan satu alasan mengapa terjadi kebuntuan dalam membentuk pemerintahan koalisi.

Netanyahu telah dengan tegas menyangkal semua tuduhan terhadap dirinya, namun dengan dakwaan penuh dari agung, dia berada dalam posisi sulit.

Masih belum jelas bagaimana masa depan politik Netanyahu setelah dakwaan ini. Menurut hukum Israel, ia dapat tetap menjabat sampai putusan akhir diumumkan, tetapi sekutu politiknya harus memutuskan apakah akan tetap mendukungnya dalam negosiasi koalisi yang sedang berlangsung atau berpindah haluan ke kandidat lain.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini