nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

PRT di Batam Dianiaya Majikan, saat Kabur Hampir Diperkosa Tukang Ojek

Aini Lestari, Jurnalis · Rabu 27 November 2019 03:35 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 27 340 2134850 prt-di-batam-dianiaya-majikan-saat-kabur-hampir-diperkosa-tukang-ojek-SsgEfTRydr.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

BATAM - Nasib Aufa (22), wanita asal Palembang yang sehari-hari bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) mengaku kerap dianiaya oleh majikannya. Hal ini membuatnya tak betah hingga memutuskan kabur dari rumah sang majikannya tersebut. Namun kejadian buruk tak berhenti sampai di situ.

Perlakuan kasar yang berujung penganiayaan kerap dilakukan oleh perempuan berinisial Ve, majikan Aufa. Puncaknya, Aufa melarikan diri dari rumah majikan yang berada di Komplek Duta Mas, Boulevard IV No 10A, Batam Center, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Jumat 22 November 2019. Aufa diam-diam kabur saat disuruh menutup pintu gerbang oleh sang majikan.

Tanpa tujuan yang pasti, Aufa mencoba keluar dari komplek perumahan tersebut. Tak lama, ia bertemu dengan seorang pria yang tengah mengendarai sepeda motor dan mengaku sebagai tukang ojek. Kepada pria yang tak dikenalnya tersebut, Aufa minta diantarkan ke kantor polisi terdekat.

Namun, tukang ojek tersebut tak lantas membawa Aufa ke kantor polisi. Aufa yang tidak hapal jalan dibawa ke arah Pantai Ocarina. Setibanya di sana, laki-laki tersebut meminta Aufa untuk berhubungan badan. ”Saya mau digitukan (diperkosa) sama dia (tukang ojek),” kata Aufa kepada petugas Polsek Batam Kota.

Ilustrasi.

Untungnya, Aufa berhasil melarikan diri dari pria yang berniat memperkosanya tersebut dan berhasil mendatangi Mapolsek Batam Kota. Dengan keadaan luka bocor di bagian kepala, lebam di bagian pelipis mata dan bengkak di lengannya, Aufa memberikan keterangan ke polisi. Luka-luka tersebut diakui Aufa merupakan perbuatan Ve, majikan perempuannya.

Aufa mengaku dirinya kerap mendapat perlakukan kasar dari sang majikan sejak 6 bulan terakhir. Perlakuan kasar tersebut diterima Aufa jika dirinya telat bagun tidur atau saat dirinya salah membersihkan sesuatu. “Kalau telat bangun, saya pasti dimarahin. Bahkan saya pernah dipukul pakai centong,” ujar Aufa.

Aufa mengaku, saat dirinya melapor ke Polsek Batam Kota, Sabtu, 23 November 2019, bertepatan dengan satu tahun dirinya bekerja di rumah Ve. Aufa bekerja di rumah Ve melalui penyalur PT Ali Umar Barokah yang berkantor di Sei Panas.

Kapolsek Batam Kota AKP Restia Octane Guchy yang dikonfirmasi, tak berkomentar banyak. Sempat ditemui oleh Okezone, Guchy hanya berkomentar. “Nanti ya”. Hingga akhirnya Guchy menjawab melalui pesan singkat. “Untuk penganiayaannya, kita sedang lidik,” ujarnya singkat.

Okezone yang sempat mendatangi rumah pelaku untuk konfirmasi penganiayaan tersebut bertemu dengan seorang pria yang diketahui merupakan suami Ve. Kepada awak media, pria tersebut juga enggan berkomentar banyak. “Tidak ada (penganiayaan) itu. Lagian kan sudah damai,” ujarnya singkat sembari menutup pagar rumah.

Di lain kesempatan, Gandi Hartawan, kuasa hukum PT Ali Umar Barokah, penyalur yang mempekerjakan Aufa mengatakan, pihak korban dan majikan telah sepakat untuk berdamai. Hal ini dilakukan setelah Aufa tidak ingin memperpanjang permasalahan karena mengingat jasa-jasa sang majikannya. ”Korban juga sudah dipulangkan ke kampung halamannya,” ujar Gandi, Selasa (26/11/2019) siang di PN Batam.

Kepulangan Aufa juga dikarenakan kontrak kerjanya sudah akan segera berakhir. “Semua hak-haknya sudah dibayarkan oleh majikannya, seperti gaji dan THR,” ujar Gandi.

Gandi menjelaskan, sesuai kesepakatan, Aufa menerima gaji sebesar Rp2,3 juta setiap bulannya. Dan saat disinggung terkait luka-luka yang ada di tubuh Aufa, Gandi mengatakan bahwa hal itu dikarenakan Aufa sering terjatuh karena memiliki penyakit tekanan darah rendah.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejaksaan Negeri Batam, Novriadi Andra yang dimintai pendapat terkait permasalahan ini menjelaskan, kasus penganiayaan tersebut masuk dalam kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), sebagaimana diatur dalam pasal 2 ayat 2 UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).

Pada pasal itu disebutkan bahwa orang-orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut dipandang sebagai anggota keluarga. ”Seharusnya pelaku bisa dijerat dengan undang-undang tentang PKDRT karena jelas disebutkan dalam undang-undang itu, pembantu masuk dalam anggota keluarga,” kata Novriadi.

Novriadi juga menjelaskan bahwa, kasus penganiayaan tersebut seharusnya dapat diproses hingga penuntutan di pengadilan guna keadilan bagi korban. “Karena ini bukan delik aduan. Harusnya tetap diproses hingga ke persidangan. Karena jelas juga diatur dalam Pasal 55, sebagai alat bukti yang sah, keterangan satu orang saksi korban saja sudah menjadi alat bukti yang sah untuk menyatakan seseorang bersalah,” ujar Novriadi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini