Pesantren ini juga memamerkan produk sabun. Namun, ada beberapa pihak yang ingin membeli bahan sabunnya yaitu karbon aktifnya. Bahan ini adalah untuk memperhalus kulit.
Dukungan DPRD
Anggota DPRD Jabar Yuningsih yang ikut rombongan ke Turki menyambut baik pameran pesantren OPOP di World Halal Summit. Dia berharap OPOP dapat kontinu dan lebih banyak lagi pesantren yang tampil di pameran tingkat dunia dan memasarkan produknya keluar negeri.
Politikus PKB ini mengatakan, bantuan OPOP jauh lebih bagus dibanding hibah biasa. Karena dengan OPOP ini bantuan lebih terarah, ada pendampingan dan ada sasaran lain, seperti kebangkitan ekonomi dan networking.
Yuningsih berharap bahwa sistem pesantren Indonesia yang juga berfungsi sebagai agen pembangunan di wilayahnya, bisa menjadi model bagi pesantren lain.
Dia juga berharap agar tiap pesantren mengemukakan keunikan-keunikan produknya.“Kami di DPRD akan mendukung program OPOP ini, karena saya melihat aspek positif untuk penguatan pesantren ke depan,”ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha kecil Jabar Kusmana Hartadji mengatakan, dia merasa bangga bahwa beberapa pondok pesantren memiliki produk-produk yang diunggulkan dan menembus pasar dunia. Jabar mempunyai 88 pesantren yang dianggap unggul. Lima pesantren yang pameran di Turki merupakan role model yang diajukan Pemprov Jabar ke dunia internasional dan mendapat sambutan hangat.
“Saya melihat langsung antusiasme pasar luar negeri dengan pesantren-pesantren ini dalam World Summit ini. Terbukti dengan adanya MoU-MoU pembelian produk-produk pesantren kita,” ujarnya.
Dia mengatakan, untuk memenuhi permintaan pasar dunia ini, maka semua pesantren harus bekerja sama, karena tidak mungkin pesanan yang banyak itu dipenuhi satu pesantren saja. Selain itu, tindak lanjut dari pameran internasional ini perlu melibatkan dinas-dinas lain di luar Dinas Koperasi dan Usaha Kecil.
“Kita harus libatkan dinas lain dan konsultan ekspor agar bisa merespons komitmen bisnis dengan cepat,” katanya.
Mendatang, Kusmana berharap agar pesantren yang ikut lebih dari lima. Namun pesantren itu harus punya kemampuan berkomunikasi, memahami sistem perdagangan.
“Dalam pameran seperti ini, kendalanya adalah bahasa. Perusahaan-perusahaan yang bertransaksi dengan pesantren kita berasa dari negeri-negeri yang berbahasa Prancis, Afrika, Arab, Rusia dan lain-lain,” ujarnya.
Dinas KUK juga berfokus pada pelatihan untuk menghadapi ekpsor saja. Selain prosedur ekspor, juga ada pelatihan negosiasi. “Selama ini, orang luar menganggap kita sebagai pasar, suatu saat kita harus jadi produsen,” tutupnya.
(cm)
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.