Mantan PM Polandia Todong Trump dengan Jari Membentuk Pistol

Rachmat Fahzry, Okezone · Sabtu 07 Desember 2019 17:03 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 07 18 2139158 mantan-pm-polandia-todong-trump-dengan-jari-membentuk-pistol-zg0O7npc9c.jpg Momen mantan PM Polandia Donald Tusk todong jari membentuk senjata ke Presiden AS Donald Trump. (Foto/Twitter Donald Tusk)

LONDON - Mantan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengunggah foto dirinya yang memperlihatkan jarinya yang menyerupai pistol menodong Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

"Meskipun turbulensi musiman, persahabatan transatlantik kita harus bertahan #Trump #NATO," tulis Tusk dalam unggahannya di Twitter pada Kamis 5 Desember 2019.

Tusk, yang merupakan Presiden Partai Rakyat Eropa yang baru terpilih mengakhiri masa jabatannya sebagai presiden Dewan Eropa pada awal bulan ini. Sebelumnya dia menjabat sebagai Perdana Menteri Polandia periode 2007-2014.

Sikap Tusk menodong senjata jari diduga dilakukannya dalam pertemuan tingkat tinggi para pemimpin negara NATO yang sedang berkumpul di Inggris.

Baca juga: Trump: Bila Anda Akan Memakzulkan Saya, Lakukan Sekarang

Baca juga: Video Bergosip Beredar, Trump Sebut PM Kanada Justin Trudeau Bermuka Dua

Langkah Tusk kepada Trump juga mendapat kritik dari netizen, yang menuduh sikap tersebut memiliki nada mengancam, dan beberapa warganet meminta maaf atas namanya.

"Apakah itu ancaman?" tulis @justathoughtUSA.

"Kita semua tahu bahwa Uni Eropa Globalis menentang Trump, tetapi ini berlebihnan," lanjutnya

"Sebagai warga negara Polandia, saya malu," tulis pengguna @RZbijowski.

"Sikap menjijikkan dari @donaldtusk," @Makaisia menulis. "Orang bodoh ini tidak punya sopan santun !!!"

Tusk dan Mr Trump secara teratur terlibat dalam perang kata-kata atas pandangan mereka yang berbeda tentang Brexit dan Uni Eropa.

Pada bulan September, Tusk saat beripato di PBB untuk menganggap pandangan Presiden Trump sebagai "salah dan berbahaya". Sebulan sebelumnya, Tusk menyebut keinginanan Trump yang mengingikan Rusia bergabung kembali dengan G7 sebagai "keuntungan bisnis".

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini