nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Bayi 35 Hari Asal Mojokerto yang Tak Punya Lubang Anus

Avirista Midaada, Jurnalis · Selasa 10 Desember 2019 21:29 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 10 519 2140342 kisah-bayi-35-hari-asal-mojokerto-yang-tak-punya-lubang-anus-TiNvPtWRsG.jpg Foto Istimewa

KOTA MOJOKERTO - Naufal Putra Aditya, bayi berusia 35 hari dari Kota Mojokerto hanya bisa menangis dan menahan rasa sakit lantaran kelainan yang dideritanya.

Anak pertama dari Risky Junianto (35) dan Nanik Mariyati (34) warga Lingkungan Randegan RT 4 RW 2 Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto ini menderita kelainan Atresia Ani atau Imperforata yang dikenal dengan tidak punya lubang anus. Untuk buang air besar, bayi malang ini terpaksa harus dilubangi perut sebelah kirinya.

Menurut sang ibu Nanik Mariyati, Naufal awalnya lahir secara normal dengan berat 3 kilogram dan panjang 48 centimeter pada Rabu 6 November 2019 di bidan Dusun Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

"Dari Bekucuk ini saya bawa pulang ke sini (rumahnya) sekitar pukul 21.00 WIB. Besok siang (Kamis 7/11/2019) Naufal tidak mau minum ASI malah muntah dan demam," tutur Nanik, Selasa (10/12/2019).

 Baca juga: 16 Hari Dirawat di RS, Bayi Tanpa Batok Kepala Akhirnya Meninggal Dunia

Ia pun lantas memeriksakan ke bidan tempatnya melahirkan. Betapa terkejutnya saat sang bidang memeriksa keadaan Naufal, ternyata diketahui tak mempunyai lubang anus. Naufal pun disarankan untuk dibawa ke RSUD dr. Soetomo Surabaya.

"Kata bidan dan dokter ada kelainan Atresia Ani, tidak punya lubang anus. Saya bawa ke RSUD dr. Soetomo dan dioperasi," ucap Nanik berkaca-kaca.

Nanik menuturkan, dokter membuatkan lubang di perut bagian kiri agar bisa buang air besar. Operasi tersebut pun berhasil, bahkan Naufal tidak menangis dan tidak demam kembali. Ia pun mau meminum ASI ibunya.

 Baca juga: Didatangi Anggota DPR, Bayi Tanpa Katup Jantung di Tegal Langsung Dibawa ke RSCM

Namun kendala datang, pasangan suami istri ini harus membeli kantong kolostomi untuk menampung buang air besar Naufal. Setiap harinya, paling tidak ia harus membeli dua kantong kolostomi dengan harga Rp68 ribu satu kantongnya.

"Sebagai pekerja serabutan, dengan rata - rata penghasilan Rp1 juta sampai Rp 1,5 juta susah. Apalagi kadang tidak ada kerjaan," tambah Risky

Lantaran harga kantong kolostomi yang mahal inilah, membuat kedua pasangan suami istri ini harus menggunakan kantong plastik guna menggantikan kantong kolostomi untuk pembuangan kotoran sementara.

Kepada media, kedua pasangan ini menuturkan harus memenuhi kebutuhan kantong kolostomi ini hingga anaknya berusia 5 hingga 6 bulan ke depan sebelum dibuatkan lubang permanen oleh dokter.

"Kata dokter 5 sampai 6 bulan bisa operasi untuk dibikinkan lubang permanen. Operasinya dilakukan di RSUD dr. Soetomo Surabaya," tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini