nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bayi Lahir Dempet di Pangkalan Bun Kemungkinan Dirujuk ke Surabaya

Sigit Dzakwan, Jurnalis · Rabu 08 Januari 2020 13:13 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 08 340 2150594 bayi-lahir-dempet-di-pangkalan-bun-kemungkinan-dirujuk-ke-surabaya-ByJ5cTenL6.jpg Ilustrasi bayi. (Foto: Shutterstock)

KOTAWARINGIN BARAT – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, hari ini akan melayangkan surat permintaan pengiriman Tim Dokter Bedah RS Dokter Soetomo Surabaya, Jawa Timur, untuk melihat secara langsung kondisi bayi kembar siam (dempet) dada dan perut di Pangkalan Bun.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Direktur RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun Dokter Fachruddin. "Hari ini kami akan kirim surat ke Dirut RS Dokter Soetomo Surabaya agar mengirim tim bedah untuk melihat langsung bayi kembar siam guna menentukan tindakan selanjutnya," ujarnya kepada MNC Media, Rabu (8/1/2020).

Baca juga: Bayi Lahir Dempet Ini Butuh Uluran Tangan Dermawan untuk Operasi 

Ia menjelaskan, hal itu sangat penting untuk mengetahui secara pasti apa yang harus dilakukan ke depannya dalam melakukan operasi pemisahan bayi kembar siam tersebut. "Sebab memungkinan besar, bayi kembar siam ini akan kita rujuk ke RS Dokter Soetomo Surabaya. Untuk itu kita perlu konsultasi langsung dengan tim dokter bedah di sana."

Sebelumnya Dokter Diah Erma SpA, anggota Tim Dokter RSUD Sultan Imanuddin, mengatakan berdasarkam hasil rontgen bayi kembar siam tersebut terlihat sejumlah organ tubuh dalam kondisi menyatu.

Baca juga: Setelah Operasi Pemisahan Tubuh di Surabaya, Azila dan Aqila Tiba di Kendari 

"Terlihat bayi dempet di bagian perut dan dada. Tali pusat ada satu, plasenta ada satu, ketuban ada satu, rongga dada ada satu, alat kelamin laki-laki ada dua, anus ada dua. Kemudian rongga toraks atau tulang dada bersatu. Jantung dan hati diduga ada dua, namun menyatu. Lambung ada satu," ujar dokter spesialis anak ini saat konferensi pers.

Biaya Lebih dari Rp1 Miliar

Berdasarkan pengalaman kasus bayi kembar siam di Indonesia, biaya operasi pemisahan bisa mencapai Rp1 miliar lebih. "Untuk kasus bayi kembar siam putra Ibu Istiharon, semua ditanggung BPJS Keshatan. Sebab sang ibu memiliki kartu BPJS," jelas Direktur RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun Dokter Fachruddin.

Pihaknya saat ini terus melakukan langkah-langkah terbaik dalam melakukan pemisahan bayi kembar siam ini. "Untuk RS rujukan masih belum kita putuskan ke mana. Yang jelas rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Supaya biaya ditanggung pemerintah. Jadi nanti bisa saja ke RS Dokter Soetomo Surabaya atau RS Dokter Kariyadi Semarang," lanjut Fachruddin.

Baca juga: Bayi Kembar Siam di Bekasi, Ridwan Kamil: Kita Monitor 

Sejauh ini, lanjut dia, kondisi kedua bayi cenderung stabil. Tidak ditemukan tanda-tanda ke arah bahaya. Sedangkan ibu kedua bayi masih menjalani perawatan di ruang rawat untuk memulihkan kondisinya pascadilakukan operasi caesar.

"Kedua bayi dalam kondisi sehat dan baik. Asupan makanan kita alirkan lewat selang infus ke kedua mulut bayi. Untuk sang ibu kondisinya berangsur baik. Jika pulih nantinya sang ibu akan kita pindah ke klinik perawatan di luar rumah sakit."

Baca juga: Bayi Kembar Siam Ini Pulang ke Bhutan Setelah Berhasil Dioperasi di Melbourne 

Ditanggung BPJS

Sementara Totok Iskandar, kepala cabang BPJS Kesehatan Sampit di Pangkalan Bun, memastikan biaya perawatan kedua bayi kembar siam dan ibunya ditanggung BPJS. Pasalnya, sang ibu terdaftar sebagai peserta BPJS.

"Selama tidak pindah kelas dalam hal ini kelas II, semua akan ditanggung BPJS Kesehatan. Namun jika nantinya dirujuk ke Pulau Jawa, biaya transportasi dan lain-lain tidak ditanggung BPJS. Nantinya akan kita buatkan surat rujukan ke RS yang dituju dan nantinya tetap akan dihandel BPJS," ujar Totok.

Sedangkan berdasarkan penelusuran pihak rumah sakit, Ibu Istiharoh (30) tinggal sebatang kara di Pangkalan Bun. Dirinya sempat ikut orangtuanya di Desa Kuning, Kecamatan Pangkalan Banteng. Namun kemudian orangtuanya meninggal dan dirinya ikut suami kedua ke Pangkalan Bun.

Baca juga: Bayi Lahir Dempet Lahir di Bali, Sang Ibu Baru Berumur 17 Tahun 

"Justru setelah hidup berumah tangga di Pangkalan Bun dan punya KTP di Jalan Natai Arahan, Pangkalan Bun, saat Istiharoh hamil satu bulan, ditinggal kabur suaminya hingga sekarang tidak ada kabar," ujar Direktur RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun Dokter Fachruddin.

Jadi saat ini Istiharoh hanya butuh bantuan para donatur untuk biaya hidup selama di rumah sakit dan biaya transportasi ke Pulau Jawa jika nanti kedua bayinya dioperasi di sana.

Baca juga: 50 Dokter Dilibatkan dalam Operasi Pemisahan Bayi Kembar Siam di Medan 

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini