Dwikorita menambahkan proses waktu dan terjadinya angin puting beliung. Berdasarkan proses, sambung dia, angin puting beliung pasti muncul di darat, bukan di laut. Angin ini muncul berasal dari awan kumulus dengan kecepatan 30–40 atau 50 knots.
"Lama waktu kejadian berlangsung selama 3 menit maksimal 5 menit. Dengan jangkauan daerah yang rusak 5 hingga 10 kilometer," ucap dia.
Menurut Dwikorita, dari segi waktu, angin puting beliung biasa terjadi ketika pancaroba. Baik peralihan dari musim hujan ke kemarau atau sebaliknya. Angin puting beliung, kata dia, tidak memiliki siklus dan sangat jarang terjadi susulan di lokasi yang sama.
"Lebih sering terjadi saat siang atau sore hari. Saat malam hari sangat jarang terjadi. Waktu terdeteksi 30 menit sampai 1 jam sebelumnya," beber dia.
Adapun dampak puting beliung, ungkap Dwikorita, bisa membuat rumah semipermanen, papan reklame, hingga pohon yang sudah tua menjadi roboh. Parahnya lagi dapat menimbulkan korban jiwa. Maka itu, dirinya mengingatkan semua pihak mengantisipasi hal tersebut.
BMKG juga meminta masyarakat yang hendak merayakan malam pergantian tahun di pantai waspada. Pasalnya,Gelombang di perairan selatan Jawa Tengah diperkirakan mencapai setinggi 4 meter. Maka itu, wisatawan diminta berhati-hati saat menikmati waktu libur Natal dan Tahun Baru 2020 di daerah pantai.
"Tinggi gelombang di Perairan Utara Jawa Tengah 0,1–1,25 meter. Tinggi gelombang di Perairan Selatan Jawa Tengah 0,5–4 meter," kata forecaster BMKG MS Fuad, Sabtu 28 Desember 2019.
Diakui dia, cuaca Jawa Tengah pada pagi hari umumnya berawan. Sementara pada siang, sore hingga malam terjadi hujan dengan intensitas ringan - sedang.
"Potensi hujan intensitas hingga lebat disertai petir dan angin kencang di wilayah pegunungan, pesisir selatan sisi utara, dan sebagian Solo Raya," tutur Fuad.
(Fetra Hariandja)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.