nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Korban Reynhard Sinaga, Sebagian Marah dan Beberapa Tertekan

Kamis 09 Januari 2020 18:34 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 09 18 2151183 korban-reynhard-sinaga-sebagian-marah-dan-beberapa-tertekan-TgCTbxoL65.jpg Reynhard Sinaga menggunakan obat GHB untuk membius para korban. (Foto/Facebook)

MANCHESTER – Petugas konseling yang mendampingi korban pemerkosaan dan kekerasan seksual Reynhard Sinaga menceritakan pengalamannya saat bertemu para korban.

"Beberapa orang marah, beberapa merasa tertekan dan beberapa ada yang tidak ingin mendengarkan apa-apa dan, pada dasarnya, meminta kami untuk pergi," ungkap Lisa Walter, petugas konseling yang bekerja sama dengan kepolisian Manchester, Inggris ketika bertemu dengan para korban Reynhard Sinaga.

Foto/Facebook

Lisa dan timnya dari St Mary's Sexual Assault Referral Centre, Pusat Bantuan Serangan Seksual St Mary, di Manchester bekerja sama dengan para detektif memberi tahu para korban pemerkosa berantai Reynhard Sinaga, bahwa mereka telah diserang ketika mereka dalam keadaan tidak sadar.

Para korban tidak mengingat apa yang telah terjadi saat mereka bangun keesokan harinya.

Baca juga: Korban Pemerkosaan Sebut Reynhard Sinaga Bersahabat, Hakim Bilang Predator Seksual Setan

Baca juga: Kesaksian Korban Pemerkosaan Reynhard Sinaga, Tidak Sadarkan Diri Usai Tenggak Miras

Reynhard, pria berusia 36 telah dihukum seumur hidup oleh Pengadilan Manchester atas tindak perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria dalam 159 kasus.

Tindak perkosaan itu semua dilakukan di apartemennya di pusat kota Manchester, yang menjadi tempat tinggalnya sejak 2011 sampai ditahan pada Juni 2017.

Instansi penuntutan di Inggris, Crown Prosecution Services (CPS), menyebut Reynhard sebagai "pemerkosa berantai terbesar dalam sejarah hukum Inggris".

Foto/Facebook

Polisi menggunakan rekaman video tindakan Reynhard bersama dengan "trofi" (kenang-kenangan) yang ia dikumpulkan dari para korban seperti telepon, jam tangan dan kartu identitas, untuk mengidentifikasi para korban.

Lisa mengatakan kepada Radio 1 Newsbeat kasus ini memang kasus yang luar biasa.

"Biasanya, ketika seseorang telah mengalami kekerasan seksual, mereka tahu apa yang terjadi dan merasa terdorong untuk melaporkannya ke polisi atau tidak,” kata dia melansir BBC, Kamis (9/1/2020).

"Dalam hal ini, para pria yang menjadi korban tidak tahu bahwa mereka telah mengalami kekerasan seksual. Jadi, mereka hanya dikunjungi secara tiba-tiba, oleh detektif yang memberi tahu mereka."

Foto/Kepolisian Manchester Raya

Lisa menjelaskan bahwa para korban ini umumnya "berurusan dengan dua rangkaian insiden traumatis" - kejutan mengetahui apa yang terjadi pada mereka, ditambah dengan trauma dari serangan seksual.

Dan tidak satu pun dari mereka yang bereaksi dengan cara yang sama.

"Kami harus menyampaikan berita ini dengan pelan-pelan. Kami tidak tahu apa-apa tentang para lelaki ini, kami tidak tahu apakah mereka memiliki riwayat trauma psikologis atau pernah diserang sebelumnya.

"Kita masing-masing individu yang berbeda ... Saya pikir jika kita mulai mengkaterogikan orang-orang dan berkata, 'pria akan bereaksi dengan cara tertentu', maka kita kehilangan kesempatan untuk mendukung mereka dengan cara yang benar."

Lisa mengatakan bahwa dia merasa kesulitan secara pribadi selama proses itu tetapi senang telah dapat membantu dengan memberi dukungan.

"Perkosaan dan kekerasan seksual adalah kejahatan yang dapat membuat para korban merasa terisolasi, sulit untuk diproses dan dipahami. Hanya dengan berbicara kepada seseorang dan mengetahui bahwa sebenarnya Anda berperilaku normal akan bermanfaat bagi banyak orang."

"Hal ini sangat sulit dan juga merupakan tanggung jawab besar untuk memastikan mereka baik-baik saja."

Kepolisian Manchester Raya mengatakan bahwa jika ada orang yang merasa menjadi korban serangan oleh Reynhard dapat menghubungi layanan informasi kepolisian maupun menghubungi layanan telepon 0800 092 0410 dari dalam Inggris atau 0207 158 0124 dari luar negeri.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini