Kasus Investasi Bodong Memiles, Polisi Tangkap 2 Tersangka Baru

Syaiful Islam, Okezone · Jum'at 10 Januari 2020 18:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 10 519 2151544 kasus-investasi-bodong-memiles-polisi-tangkap-2-tersangka-baru-2FkPxQQMZw.jpg Polisi tangkap 2 tersangka baru kasus investasi bodong Memiles (Foto : Okezone.com/Syaiful)

SURABAYA - Penyidik Ditreskrimsus Polda Jatim kembali menangkap dua tersangka terkait kasus dugaan investasi bodong Memiles. Bila sebelumnya polisi menangkap KT (47) dan FS (52), kini polisi meringkus ML alias Dr Eva (54) dan PH (22).

Peran dokter Eva sebagai master marketing Memiles. Sedangkan PH berperan sebagai Kepala IT PT Kam and Kam (Memiles). Saat ini keempat tersangka dijebloskan dalam tahanan Mapolda Jatim.

Polisi bongkar investasi bodong beromzet Rp750 miliar (Foto : Okezone.com/Syaiful)

Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan, menjelaskan kedua tersangka ditangkap penyidik pada 7 Januari 2020, dan telah dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka. Dari tangan Dr Eva, petugas menyita uang tunai Rp102.500.000, 4 telepon genggam, dan Tablet sebagai barang bukti.

Sementara, dari tangan tersangka PH polisi mengamankan laptop dan 2 telepon genggam.

"Dua tersangka yang baru ditangkap perannya berbeda. Untuk tersangka dokter Eva sebagai motivator dan merekrut member publik figur maupun masyarakat untuk bergabung. Sedangkan PH sebagai IT," ujar Luki pada wartawan, Jumat (10/1/2020).

Menurut Luki, saat ini uang yang disita dari rekening utama PT Kam and Kam sebesar Rp122 miliar dan akan disimpan dalam penampungan barang bukti. Hingga saat ini, member Memiles yang mengadu ke SPKT Polda Jatim berjumlah 26 orang dari berbagai daerah.

Baca Juga : Dugaan Korupsi Asabri, Mahfud MD: Saya Dengar Tak Kalah Fantastis dengan Jiwasraya

Baca Juga : Bus Terbakar di Bandara Ngurah Rai Bali Diduga Akibat Mesin Rusak

Adapun nilai uang yang telah masuk ke PT Kam and Kam bervariasi setiap member. Di mana setiap member mulai Rp50 juta sampai Rp180 juta. Di samping pengaduan offline, polisi juga membuka pengaduan secara online terkait kasus tersebut.

"Ada 160 orang yang mengadu secara online. Untuk dokter Eva sebenarnya dia bukan seorang dokter, tapi dia akupuntur. Kami akan terus mendalami kasus ini," ujar Luki.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini