Bangkitnya Kasultanan Pajang Setelah Tidur Panjang 400 Tahun (Bagian 1)

Bramantyo, Okezone · Minggu 19 Januari 2020 02:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 19 512 2154929 bangkitnya-kasultanan-pajang-setelah-tidur-panjang-400-tahun-bagian-1-qS9cNVSZ0e.jpg Lokasi Kesultanan Pajang (Foto: Okezone/Bramantyo)

SUKOHARJO - Dua belas tahun sudah, tepatnya 2 Februari 2009, Suradi menghidupkan kembali Kraton Pajang, di Dukuh Pesanggrahan, Kelurahan Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Hadirnya kembali Kasultanan Pajang di tengah-tengah Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran kala itu, menjadi cibiran dari banyak pihak.

Apalagi kemudian Suradi yang semula berprofesi sebagai seorang kontraktor diangkat menjadi Sultan dengan gelar Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatullah IV.

Lantas bagaimana kisah Suradi yang semula berprofesi sebagai seorang kontraktor bisa mendaulatkan diri menjadi seorang Sultan Kasultanan Pajang?

Untuk mengetahui kisahnya, Okezone tiba di kediaman Suradi yang dijadikan sebagai pusat dari Kraton Pajang. Di tengah suasana sepi, terlihat tiga orang tengah duduk santai sambil berbincang satu dengan yang lain di samping pohon beringin.

Begitu melihat Okezone, mereka tahu yang datang adalah media. Tanpa harus mengetahui maksud kedatangan, mereka meminta untuk menunggu Suradi yang tengah keluar rumah.

"Tunggu saja dulu di sini, Sinuhun lagi keluar. Beliau lagi ke tempat pembuatan Kijing (batu nisan) didekat terminal Tirtonadi,"papar salah satu warga yang saat itu ada disitu, Sabtu 18 Januari 2020.

Sambil menunggu kedatangan Suradi, Okezone pun melihat lihat halaman rumah Suradi yang dijadikan pusat Kraton Pajang.

Keraton

Cukup luas juga halamannya. Di tengah halaman terdapat sebuah masjid bernama Suro Jiwan yang dijadikan masjid Agung Kasultanan Pajang.

Di samping masjid, terdapat dua buah beringin kembar, ciri khas dari sebuah Kraton. Di belakangnua terdapat sebuah pemandian yang biasa disebut Sendang Panguripan.

Saat Okezone tengah asik melihat halaman rumah yang dijadikan pusat dari Kraton Pajang, Suradi pun datang dengan menggunakan sepeda motor.

Kepada Okezone, Suradi mengatakan kalau dirinya tengah melihat batu Nisan yang dipesannya. Saat ditanya, untuk siapa batu Nissan tersebut, Suradi pun menjawab bila batu nisan itu sengaja dipesan untuk dirinya sendiri.

"Itu buat saya sendiri. Persiapan, namannya manusia, sewaktu-waktu meninggal. Jadi kalau sekarang buatnya, saya bisa tahu, ini cocok apa tidak. Jangan sampai nanti merepotkan yang masih hidup," terang Suradi.

Setelah itu Suradi pun menceritakan kalau dirinya memang tidak mempunyai darah biru. Pengangkatan dirinya menjadi seorang Sultan itupun diluar perkiraannya.

Saat itu, dirinya mendengar akan ada lelang pembangunan masjid Agung Demak. Sebagai seorang kontraktor, Suradi pun tertarik ikut.

Kemudian Suradi pun berangkat bersama temannya ke Demak untuk ikut dalam lelang pembangunan Masjid Agung Demak.

"Sebelum saya ikut, saya bertanya pada seseorang bernama pak Mintho. Saya tidak tahu kalau pak Mintho itu ternyata Kanjeng Sultan Surya Alam Akbar (Sultan Demak). Oleh Pak Mintho saya malah dibilang 'kenapa seorang Sultan mau ikut lelang segala. Sudah tidak usah ikut lelang, besarkan lah Kasultanan Pajang," ujar Suradi menceritakan awal pertama dirinya bisa menjadi Sultan.

Suradi

Mendengar itu, Suradi tak langsung menjawab. Namun, Suradi meminta waktu untuk bicara pada keluarganya. Saat itu, anak-anak Suradi menolak keras dirinya untuk kembali merawat Kraton Pajang yang telah runtuh 400 tahun silam.

Selain bukan dari keturunan Kraton, anak-anaknya melihat kalau itu bukan bidangnya. Penolakan anak-anaknya itu disampaikan kembali ke Kanjeng Sultan Surya Alam Akbar. Namun, ungkap Suradi, Sultan Demak menolak alasan itu dan tetap mendaulat Suradi menjadi Kanjeng Raden Adipati Suradi Joyo Nagoro, sebelum akhirnya mengangkat sebagai Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatullah IV.

"Sultan Demak mengutus utusannya ke Pajang. Untuk mengajarkan saya bagaimana menjadi Sultan dan tata cara serta tradisi Kraton," terangnya.

Sejak saat itulah, Suradi pun gigih melestarikan Kasultanan Pajang. Meskipun diakui oleh Suradi, ada pihak yang menganggap kalau dirinya itu hanya mengaku-ngaku sebagai Sultan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini