WASHINGTON – Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi sebanyak 50 tentara dan petugas layanan AS menderita gegar otak setelah serangan rudal Iran menyasar ke pangkalan militer Amerika di Irak awal Januari ini. Jumlah ini lebih banyak dari sebelumnya, yang dikabarkan hanya 16 orang.
Presiden AS Donald Trump dan pejabat tinggi lainnya pada awalnya mengatakan, serangan Iran pada 8 Januari 2020 tidak membunuh atau melukai petugas layanan Amerika.
Iran menembakkan rudal ke Ain al-Asad sebagai balasan atas pembunuhan yang dilakukan AS terhadap Qassem Suleimani, seorang Komandan pasukan elite Quds Iran dalam serangan pesawat tak berawak di bandara Baghdad pada 3 Januari 2020.
"Sampai hari ini, 50 anggota layanan AS telah didiagnosis," kata Juru Bicara Pentagon, Letnan Kolonel Thomas Campbell melansir The Guardian, Rabu (29/1/2020).
Gejala cedera itu, termasuk sakit kepala, pusing, sensitif terhadap cahaya dan mual.
Sebanyak 18 orang telah dikirim ke Jerman untuk perawatan lebih lanjut, sedangkan satu orang dikirim ke Kuwait dan telah kembali bertugas.
"Ini adalah potret waktu dan angka yang dapat berubah," kata Letnan Kolonel Thomas Campbell.