JAKARTA - Militer Iran mempelajari teknologi rudal jelajah Tomahawk milik Amerika Serikat (AS) yang gagal meledak dalam perang AS -Iran beberapa waktu lalu. Misil-misil itu kemudian direplikasi teknologinya.
Melansir kantor berita Mehr, Jumat (15/5/2026), sejumlah rudal Tomahawk ditemukan sebagian utuh setelah sistem peledakannya gagal atau terganggu oleh kemampuan perang elektronik Iran. Teheran menggunakan rudal-rudal tersebut untuk mengembangkan sistem rudalnya sendiri.
“Dalam perang 40 hari, strategi Iran beralih ke memperoleh pengetahuan dari medan perang. Setiap rudal Tomahawk yang mendarat dan tidak meledak adalah buku teks tingkat lanjut bagi para insinyur Iran,” tulis Mehr dalam laporannya dikutip Middle East Eye.
Namun laporan Mehr tersebut belum bisa diverifikasi secara independen. Sebelumnya, para pejabat Iran mengatakan mereka telah meledakkan atau menetralisir amunisi Amerika dan Israel sejak gencatan senjata berlaku pada 7 April.
Sekadar diketahui, Tomahawk adalah peluru kendali jelajah jarak jauh dalam segala kondisi cuaca dan memiliki kecepatan subsonik. Pertama kali diperkenalkan pada tahun 1970 oleh General Dynamics, peluru kendali ini (misil) didesain untuk jarak menengah dan jauh, mampu terbang rendah dan juga dapat diluncurkan dari darat dan bawah air.
Tomahawk berbobot antara 1.192,5 kg sampai 1.440 kg dengan panjang 5,56 - 6,25 meter. Rudal tersebut sanggup mengangkut beban untuk hulu ledak konvensional sampai 500 kg.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.