JAKARTA - Hari ini, Selasa 29 Januari 2020, tepat 70 tahun meninggalnya Jenderal Soedirman, seorang panglima angkatan bersenjata Indonesia yang gigih melawan penjajah. Namanya kini dibadikan di sejumlah infrastruktur publik dan dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.
"Pak Dirman itu makanan kesukaannya belalang dibakar. Makanan saat bergerilya juga itu," kata cucu Jenderal Soedirman, Danang Priambodo Soedirman saat berbincang dengan wartawan Okezone Fakhrizal Fakhri, beberapa waktu lalu.
Lahir pada 24 Januari 1916 di Purbalingga, Jawa Tengah. Pria yang berprawakan kecil itu bernama Raden Soedirman. Dia lahir dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem.

Semasa kecil, ia tidak diasuh oleh kedua orangtuanya, melainkan oleh pamannya sendiri yang merupakan seorang priyai.
Sejak usia dini Soedirman sudah diajarkan etika dan tata krama priyayi, cerita-cerita kepahlawanan, serta etos kerja dan kesederhanaan. Bersama dengan adiknya, Soedirman kecil juga mempelajari Islam di bawah bimbingan Kiai Haji Qahar.
Soedirman pun dikenal dengan pribadi yang taat agama dan menjadi aktivis Muhammadiyah saat masa remajanya. Soedirman muda selalu dipercaya untuk mengumandangkan azan dan ikamah.
Ia sempat mengenyam pendidikan di sekolah pribumi (hollandsch inlandsche school). Namun, tujuh tahun kemudian ia dipindahkan ke sekolah milik Taman Siswa.
Sang Jenderal juga tercatat pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Wirotomo. Jenderal besar itu dikenal sebagai siswa yang pintar karena dirinya sudah mempelajari pelajaran tingkat dua pada masih tingkat satu.
Baca Juga : 27 Kucing di Karanganyar Mati Mendadak
Baca Juga : Jaksa KPK Selisik Utang-Piutang Eks Dirut PT INTI dengan Mantan Dirkeu AP II
Perlawanan Soedirman sudah terdidik saat masih bersekolah di Wirotomo. Di sekolah itu, para gurunya dikenal sebagai orang-orang yang nasionalis.
Usai lulus dari Wirotomo, Soedirman belajar selama satu tahun di Kweekschool namun pendidikannya di sekolah keguruan itu terpaksa berhenti karena kekurangan biaya.