nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Liga Arab Ambil Suara Bulat, Tolak Rencana Perdamaian Timur Tengah Trump

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin 03 Februari 2020 09:08 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 03 18 2162332 liga-arab-ambil-suara-bulat-tolak-rencana-perdamaian-timur-tengah-trump-DzpoLcbhCj.jpg Foto: Reuters.

KAIRO - Liga Arab telah menolak rencana perdamaian Timur Tengah yang diajukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Organisasi negara-negara Timur Tengah itu mengatakan rencana tersebut tidak akan menghasilkan perdamaian yang adil antara Israel dan Palestina.

Anggota Liga Arab bertemu di Kairo pada Sabtu, 1 Februari 2020 untuk membahas rencana yang disebut oleh Trump sebagai "kesepakatan abad ini" itu, dan peta jalan realistis menuju perdamaian antara Israel dan Palestina. Sebelumnya, Palestina juga telah menolak rencana perdamaian Trump tersebut.

BACA JUGA: Malaysia Sebut Rencana Perdamaian Timur Tengah Trump "Tidak Dapat Diterima"

Berbicara pada pertemuan itu, Presiden Palestina Mahmood Abbas mengumumkan dia akan memutuskan semua hubungan dengan AS dan Israel terkait rencana perdamaian tersebut. Abbas juga menegaskan bahwa dia tidak mau tercatat dalam sejarah sebagai “orang yang menjual Yerusalem”.

Setelah mempertimbangkan posisi Amerika dalam rencana itu, Liga Arab menyatakan berpihak pada Abbas dan menolak rencana itu dengan suara bulat.

Dalam komunike bersama, para pejabat dari 22 negara anggota mengatakan kesepakatan itu tidak akan menghasilkan perdamaian yang adil antara kedua belah pihak. Liga Arab juga menyatakan bahwa organisasi itu tidak akan bekerja sama dengan AS untuk mengimplementasikan rencana perdamaian Trump itu.

Wakil Ketua Liga Arab Hossam Zaki mengatakan, pertemuan darurat digelar untuk menentukan posisi dunia Arab yang bersatu dalam menanggapi 'kesepakatan abad ini'.

"Posisi ini wajib untuk setiap (negara anggota)," tegas Zaki sebagaimana dilansir Russia Today, Senin (3/2/2020).

BACA JUGA: Seperti Ini Pembagian Wilayah Palestina-Israel dalam Rencana Perdamaian Trump

Dia meyakini bahwa persyaratan proposal Amerika sama sekali tidak adil bagi Palestina.

Sekitar sepertiga dari wilayah (Palestina) saat ini akan diserahkan ke Israel. Sebagai gantinya, Israel dapat memberi Palestina 14 persen dari tanah gurun, sebagai imbalan atas tanah subur dan sumber air di Tepi Barat. Itu tidak adil bagi pihak Palestina,” jelasnya,

Menurut ketentuan perjanjian itu, permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki akan disahkan, dan negara Yahudi itu akan mencaplok wilayah luas tanah subur Palestina. Meski dalam rencana itu Trump menyatakan akan negara Palestina yang berdaulat, ibu kotanya akan berlokasi di luar Yerusalem Timur, dengan keamanan serta kebijakan perbatasannya akan diputuskan oleh Israel.

Lebih jauh lagi, rencana tersebut mengakui keseluruhan Yerusalem, termasuk situs-situs suci di Temple Mount, sebagai properti Israel.

Yerusalem diklaim sebagai ibu kota oleh Israel dan Palestina, dan dengan menyerahkan kota itu ke Israel, pemerintahan Trump kemungkinan mengantisipasi penolakannya oleh Abbas dan negara-negara Arab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini