Kisah Janda Merawat 2 Anaknya yang Lumpuh dan Buta di Gubuk Reot

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 07 Februari 2020 14:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 07 519 2164870 kisah-janda-merawat-2-anaknya-yang-lumpuh-dan-buta-di-gubuk-reot-WyY2w3hL6w.jpg Rosiya saat merawat kedua anaknya (foto: istimewa)

JEMBER - Seorang janda asal Dusun Krajan, Desa Karang Paiton, Kabupaten Jember, hidup dalam kondisi memprihatinkan, dengan merawat dua anaknya yang mengalami kelumpuhan dan buta sejak lahir.

Rosiya (60), sehari-hari tinggal di sebuah gubuk reot yang sempit dengan merawat dua anaknya Muhammad Sidi (30), dan Yani (27) yang mengalami kebutaan dan kelumpuhan sejak lahir.

Di dalam rumah berukuran 2 x 3 yang sudah tak layak ini, hanya terdapat alas tidur, gelas, dan piring seadanya, serta beberapa buah baju saja. Bahkan kondisi rumah yang ditinggali pun dapat dikatakan jauh dari kata layak, dengan kebersihan yang sama sekali tak terjaga.

Kepada media, Rosiya menjelaskan, ia merawat anaknya dalam keadaan yang tak normal dengan kondisi fisik berat dan tinggi yang tak seperti orang biasanya.

"Anak saya lumpuh dan buta sejak lahir. Kondisi anak saya juga tidak normal, tinggi dan beratnya juga tidak seperti orang kebanyakan," ujar Rosiya, Jumat (7/2/2020).

Rosiya menambahkan, lantaran mengalami kelumpuhan sejak lahir, kedua anaknya hingga kini hanya bisa berbaring tak bisa berjalan. Kalaupun keduanya duduk, itu pun dibantu oleh sang ibu yang mendudukkan kedua anaknya.

Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengobati kedua anaknya, mulai dari pengobatan medis hingga pengobatan alternatif. Namun penyakit yang diderita anaknya tak juga kunjung sembuh.

"Saya pasrah saja, saya akan rawat anak-anak saya sampai mati. Sudah dicoba pengobatan medis hingga alternatif tapi belum sembuh. Mau berobat lagi sudah tidak mampu lagi, tidak ada uang," terangnya.

Saat ditanya mengenai suami sekaligus ayah dari kedua anak tersebut, Rosiya mengaku ia ditinggal suaminya pulang ke kampung halamannya di Madura, sejak anak pertama berusia 6 tahun dan anak kedua berusia 3 tahun.

"Sudah lama ditinggalkan, dia pulang kampung ke Madura. Waktu itu Sidi (anak pertama) masih berusia 6 tahun, dan Yani (anak keduanya) berusia 3 tahun," lanjutnya.

Untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari, Rosiya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sehari-hari Rp25 ribu.

"Itu tidak setiap hari, kalau ada orang yang butuh ya dipakai, kalau tidak ya sudah. Kalau untuk makan ya dicukup-cukupkan. Pokok anak saya makan dulu," tambahnya.

Di sisi lain Kepala Dusun Krajan, Kasto menyatakan bila Rosiya sebenarnya juga mendapatkan bantuan dari pemerintah, mulai dari bantuan beras hingga bantuan lainnya.

"Mereka dapat bantuan selama ini, kami berusaha maksimal supaya mereka tetap bisa makan. Kita juga sudah ajukan program bedah rumah, program usaha ternak ayam, namun belum tembus," kata Kasto.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini