nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sultan HB X Sebut Pelaku Klitih di Yogyakarta Bukan Warga Miskin

Sabtu 08 Februari 2020 23:51 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 08 510 2165509 sultan-hb-x-sebut-pelaku-klitih-di-yogyakarta-bukan-warga-miskin-PubQLTPhLt.jpg Sri Sultan Hamengku Buwono X. (Foto: Dok Koran Sindo)

YOGYAKARTA – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan HB X mengatakan Yogyakarta darurat klitih. Kejahatan jalanan tanpa motif yang jelas itu, menurut dia, tidak selalu melibatkan warga miskin. Sultan pun meminta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terlibat menangani kejahatan jalanan tersebut.

Hal itu diutarakan Sultan dalam pelantikan Kepala BKKBN DIY di Bangsal Kepatihan pada Jumat 7 Februari 2020. Sultan mendorong terbentuknya pokja ketahanan keluarga yang sejalan dengan pembentukan keluarga berkualitas yang merupakan program BKKBN berkelanjutan. Selain itu perlunya inisiatif raperda penanggulangan kejahatan remaja.

"Saya menambahkan titipan untuk memberi perhatian dan ikut menangani secara serius bahaya Yogya Darurat Klitih yang disebabkan oleh kejahatan siswa di jalanan," ucap Sultan dalam sambutannya, seperti dikutip dari Harianjogja, Sabtu (8/2/2020).

Sultan mengatakan saat ini Pemerintah Provinsi DIY sedang membuat regulasi tentang keluarga tangguh sebagai respons kasus klithih yang terjadi di Yogyakarta. Hal itu untuk mendeteksi kemungkinan ada persoalan di level keluarga kemudian dilakukan penanganan.

"Sehingga mungkin laki-laki itu merasa jauh lebih bebas daripada wanita. Sehingga apa yang tadi saya utarakan Yogya darurat klitih misalnya. Misalnya dari survei ya itu kurang perhatian orangtua dan sebagainya," kata dia kepada wartawan usai pelantikan.

Sultan memberikan sinyal harapan kepada BKKBN agar ikut membantu dalam menangani klithih, terutama bisa memberikan kontribusi dalam mengintervensi keluarga melalui pendekatannya. Sehingga jika menemukan persoalan keluarga dan membantu keluhan tersebut.

Sultan memperkirakan anak yang terlibat dalam tindakan klithih bukan dari kalangan miskin. Terbukti mereka sebagian besar bisa memfasilitasi anak pelaku itu dengan motor. "Karena rata-rata dengan sepeda motor. Jadi pikiran saya bukan orang miskin (pelaku klithih), tapi (ekonomi) menengah ke atas," katanya.

Sultan melanjutkan dengan kembali menyinggung soal adanya persoalan orangtua jarang berkomunikasi dengan anak meski pun semua anggota keluarga memiliki alat komunikasi. Karena sebagian besar justru sibuk dengan ponsel masing-masing, bahkan orangtua tidak sempat menanyakan kabar anaknya. Akibatnya, anak merasa bebas karena tidak mendapatkan perhatian.

"Justru kebebasan itu yang mestinya sebelum ada HP alasannya bapak/ibu sibuk sehingga tidak ada komunikasi. Sekarang semua orangtua punya handphone. Anaknya punya handphone, bapaknya/ibunya punya handphone. Tapi kalau say hello: 'Gimana nak kabar kamu?", tidak pernah begitu kan. Punya konsekuensi dia (anak) lepas," ucapnya.

(han)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini