nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Manfaatkan Tumpangsari, Kabupaten Pali Swasembada Benih Kedelai 2020

Wilda Fajriah, Jurnalis · Rabu 19 Februari 2020 16:14 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 19 1 2170949 manfaatkan-tumpangsari-kabupaten-pali-swasembada-benih-kedelai-2020-JaIcX3Q1lT.jpg dok: Kementan RI

JAKARTA – Petani di kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), provinsi Sumatera Selatan berhasil mengembangkan tumpangsari antara kedelai dan tanaman sari. Gatot yang tergabung dalam kelompok tani Bina Usaha II adalah salah satu kelompok tani (poktan) yang mendapatkan program bantuan tumpang sari kedelai dari Direktorat Aneka Kacang dan Umbi (Akabi) Kementerian Pertanian tahun 2019.

“Saya memberanikan diri untuk mencoba nanam kedelai dilahan sawit saya, dan hasilnya bagus” tutur Gatot.

Pertanaman kedelai di lahan seluas 5,5 hektar ini dilakukan karena sawit nya sedang masa replanting (peremajaan). Selain mendapatkan hasil yang memuaskan, gatot juga melihat perubahan tanah di lahannya yang sebelumnya kurang subur menjadi tampak gembur dan subur usai menanam kedelai.

Varietas yang dikembangkan oleh Poktan Bina Usaha II ini adalah Varietas Dena yang merupakan varietas unggul yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Pertanian (Balitbangtan) tahun 2014. Varietas Dena ini dipilih karena sifatnya yang cocok terhadap naungan atau mampu tumbuh dibawah tegakan tanaman perkebunan dan lingkungan agroforestri yang umurnya tidak lebih dari 4 tahun.

Kedepan Gatot akan melanjutkan pertanaman kedelai kembali, hasil panen sebagian besar akan digunakan sebagai benih untuk perluasan tanam di beberapa tempat.

Hal ini disambut positif oleh Kementan, Rachmat selaku Kepala Subdit Kedelai Direktorat Akabi menuturkan program tumpangsari ini bukan hanya baik untuk kebutuhan stok kedelai di Kabupaten Pali, tetapi juga dapat menambah pendapatan petani menunggu sawit nya menghasilkan. “Keberhasilan poktan Bina Usaha II ini dapat dicontoh wilayah lain di Indonesia” tutur Rachmat.

Rachmat menyatakan kesiapannya untuk melakukan pembinaan intensif di kelompok tani tersebut demi memenuhi kebutuhan benih kedelai di tahun ini. Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bahwa target 2020 fokus pada bagaimana meningkatkan produksi dan produktivitas melalui gerakan nasional peningkatan produktivitas, produksi, dan ekspor.

Menurut Rachmat tumpangsari ini bukan hanya sawit saja, bisa dengan komoditi perkebunan lain seperti karet, kakao, kelapa, dan kopi dengan syarat kondisi pertanaman sedang dalam rehabilitasi, peremajaan, perluasan dan intenfsifikasi penataan.

“Program pengembangan tanaman perkebunan tahun 2020 ini cukup besar. Ada sekitar 50.000 hektar areal tanaman perkebunan yang akan dikembangkan baik untuk rehabilitasi, peremajaan, perluasan, intensifikasi serta penataan dan ini menjadi peluang kita untuk memanfaatkan integrasi tanaman palawija dengan tanaman perkebunan tersebut. Selanjutnya pola tumpangsari ini diharapkan bisa dikembangkan di wilayah lain," pungkas Rachmat.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini