Pria Jepang Divonis Mati Atas Pembunuhan 19 Penyandang Cacat

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 16 Maret 2020 13:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 16 18 2184028 pria-jepang-divonis-mati-atas-pembunuhan-19-penyandang-cacat-HbYKZZ4wt3.jpg Foto: Okezone.

TOKYO - Seorang pria Jepang dijatuhi hukuman mati pada Senin (16/3/2020) atas pembunuhan 19 penyandang cacat dalam pembantaian dengan pisau pada 2016. Kejadian itu merupakan salah satu pembunuhan massal terburuk Jepang pasca-perang.

Satoshi Uematsu, (30), mengaku telah menikam sampai mati atau melukai korban di pusat perawatan bagi orang-orang cacat mental tempatnya pernah bekerja di Sagamihara, barat daya Tokyo. Kebanyakan korban ditusuk saat mereka sedang tidur.

Dua puluh enam lainnya terluka dalam kejadian itu.

Pembantaian itu mengejutkan Jepang, negara di mana kejahatan dengan kekerasan jarang terjadi karena kontrol senjata yang ketat. Pembantaian itu juga memicu perdebatan tentang perlunya perubahan dalam masyarakat di mana orang-orang penyandang cacat masih bisa menderita stigma dan rasa malu.

Media lokal melaporkan bahwa dalam persidangan bulan lalu Uematsu menyebut para penyandang cacat mental yang tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain adalah beban bagi masyarakat dan membunuh mereka akan baik bagi masyarakat.

Hakim Ketua Kiyoshi Aonuma memutuskan menjatuhkan hukuman mati dengan digantung terhadap Uematsu atas tuduhan kekerasan kejahatan.

"Kejahatan ini sudah direncanakan dan ada bukti kuat keinginan untuk membunuh," kata Aonuma di ruang sidang yang dipenuhi anggota keluarga para korban sebagaimana dilansir Reuters, Senin (16/4/2020).

"Kekejaman dari kejahatan ini ekstrem."

Uematsu, yang mengenakan jas hitam dan dengan rambut panjangnya diikat ke belakang, duduk dengan tenang memandang hakim selama sesi pengadilan. Media setempat melaporkan bahwa dalam persidangan bulan lalu Uematsu telah menyatakan dirinya tidak berniat untuk naik banding, apa pun keputusannya.

Pembelaannya berargumen pada awal persidangan pada Januari bahwa Uematsu secara mental tidak kompeten atau memiliki kapasitas yang berkurang pada saat kejadian karena penggunaan ganja. Tetapi jaksa penuntut mengatakan dia bisa bertanggung jawab penuh atas tindakannya, sebuah pandangan yang ditegakkan hakim.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini