Share

Pandemi Covid-19 Meningkat Pesat, Pengungsi Korban Banjir dan Longsor Kian Sepi Bantuan

Yaomi Suhayatmi, · Jum'at 27 Maret 2020 17:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 27 340 2190044 pandemi-covid-19-meningkat-pesat-pengungsi-korban-banjir-dan-longsor-kian-sepi-bantuan-D3FLaQoLzI.jpg Foto: Dokumentasi Perkumpulan Urang Banten (PUB) Lebak

JAKARTA - Biasanya, meski tak banyak, namun selalu saja ada donatur dan relawan yang datang memberi bantuan langsung kepada para korban banjir dan longsor Lebak, Banten yang berada di sejumlah lokasi pengungsian. Bantuan selama ini diberikan dalam bentuk uang tunai, sembako, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Namun, sejak meningkatnya pandemi Covid-19 yang terus menelan korban jiwa, para donatur semakin jarang datang memberi bantuan. Bahkan, para relawan yang sebelumnya membantu para pengungsi, memilih pulang dengan alasan keselamatan.

“Situasi kayak begini, orang takut keluar rumah. Bantuan pun sepi. Padahal warga di sini sangat mengharapkan adanya bantuan dari para donatur dan rewalan. Kalau mengandalkan bantuan dari pemerintah saja tidak mencukupi,” kata Kepala Desa Banjarsari, H. Anis Mutjahidin kepada Okezone.

Saat ini, kata pria yang kerap disapa Jaro Anis, ratusan korban banjir dan longsor masih bertahan menempati sejumlah titik yang tersebar di 6 Kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten. Diantaranya 150 KK yang terdiri dari 400 pengungsi yang menempati Rumah Hunian Sementara, HUNTARA Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebak Gedong, yakni wilayah yang dipimpin Jaro Anis. Selain di Huntara Cigobang.

 Banten

Akses Jalan Sempat Terputus

 

Diantara kantung-kantung pengungsi, HUNTARA Cigobang bisa dibilang termasuk yang sulit dijangkau, terlebih lagi, satu satunya jembatan yang biasanya digunakan sebagai akses untuk menyalurkan bantuan, Rabu 26 Maret 2020 terputus akibat diterjang luapan air sungai.

“Rabu sekitar pukul 4 sore jembatan diterjang air sungai sehingga rusak. Tadi pagi kami sudah mencoba memperbaikinya sementara seadanya dulu, tadi kita bikin dari batang pohon kelapa,” jelas Jaro Anis.

Dengan kerusakan jembatan ini, sudah dipastikan akan seakin menghambat lalu-lintas bantuan logistik dari Pemerintah setempat, Badan Penanggulanan Bencana Daerah BPBD Lebak maupun elemen masyarakat, padahal para pengungsi masih perlu banyak bantuan. Belum lagi sampai saat ini ketersediaan air bersih dan penerangan masih menjadi persoalan.

“Sedih pokoknya keadaan di sini. Musim hujan seperti ini kehujanan, cuaca panas sedikit di sini kepanasan, duduk dua menit aja udah mateng rasanya. Apalagi anak anak kecil, karena Rutap ini kan dibuat dari terpal,” tutur kepala desa ini yang tiba tiba berhenti bicara sejenak karena tidak kuasa menahan tangis.

Untuk itu, saat ini, Jaro Anis pun mendesak pemerintah menepati janjinya untuk segera merealisasikan bantuan rumah tetap RUTAP bagi para pengungsi, “Tolonglah pemerintah segera merelaisasikan janji untuk memberikan bantuan kepada kami seperti yang dijanjikan,” tegasnya.

Desakan terhadap pemerintah agar lebih serius menangani kelanjutan nasib para pengungsi korban bencana alam Lebak, juga disampaikan Ketua Perkumpulan Urang Banten (PUB) Lebak Ki Pepep Faisaludin melalui Sekretaris Umumnya, Ki Dede Sudiarto yang dikenal aktif memberikan pendampingan dan bantuan kepada para korban banjir di lokasi pengungsian.

“Hunian Tetap (HUTAP) agar segera diperjelas, apalagi pemerintah kan sudah berjanji akan memberikan stimulus Rp500 ribu perbulan kepada setiap KK tapi kenyataanya warga belum menerima,” tandasnya.

Sebelumnya, Gubernur Banten Wahidin Halim kepada media, pernah menegaskan bahwa Pemprov Banten telah menganggarkan Rp 500.000 Per KK untuk Korban Banjir Lebak yang ingin mengontrak rumah.

“Warga diminta mencari kontrakan. Tapi kan di sana tidak ada (kontrakan), kecuali di Jakarta. Tapi kita sudah siapkan Rp 500 ribu per bulan," kata Wahidin Halim.

Setidaknya terdapat 30 desa di 6 kecamatan yang terdampak, yakni Sajira, Cipanas, Lebak Gedong, Curugbitung, Maja, dan Cimarga.

Namun hingga saat ini, tepatnya hampir 3 bulan berselang pasca bencana, RUTAP maupun tunjangan Rp.500.00 per KK yang dijanjikan belum diterima para warga, sementara para korban pada umumnya belum memiliki mata pencaharian.

Perkumpulan Urang Banten PUB Lebak yang diketuai Drs. Pepep Faisaluddin bekerjasama dengan sejumlah perusahaan dalam pemanfaatan dana CSR memberikan bantuan berbagai bantuan diantaranya berupa bahan material untuk Hunian Sementara RUTAP dan uang tunai.

Berdasarkan catatan BPBD Lebak, banjir bandang dan longsor yang di Kabupaten Lebak, 1 Januari lalu mengakibatkan 1.582 orang kehilangan tempat tinggal. Selain itu, tercatat 19 gedung sekolah, 18 pesantren, 19 jembatan rusak parah, 891 hektare lahan persawahan juga rusak, serta korban jiwa meninggal 9 orang dan dua orang tidak ditemukan hingga saat ini.

Banyak cerita memilukan yang tertinggal dari bencana alam di hari pertama tahun 2020 itu, namun jeritan dan teriakan ribuan korban yang terdampak nyaris tak terdengar karena hangatnya pemberitaan politik dan peristiwa nasional.

Menanggapi keadaan yang memprihatikan ini, Ketua DPRD Lebak Dindin Nurohmat beserta jajaranya di legislatif terus melakukan berbagai upaya dalam mendorong sinergitas diantara para perangkat pemerintah daerah Kabupatan Lebak dan pihak terkait untuk segera menyelesaikan proses pembangunan dan mitigasi pasca bencana.

“Nasib para korban bencana banjir dan longsor Saat ini kita semua sedang siaga menghadapi pandemi Covid 19 yang melibatkan pemerintah pusat hingga daerah, tetapi jangan sampai nasib korban banjir dan longsor Lebak ini tersisihkan. Padahal, persoalan mereka real dan urgent untuk segera ditangani dan ditindaklanjuti, “ tegas Ketua DPRD Lebak Periode 2019-2024 dari partai Gerinda ini.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini