Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sejarah Letusan Gunung Krakatau hingga Lahirnya Gunung Anak Krakatau

Erha Aprili Ramadhoni , Jurnalis-Sabtu, 11 April 2020 |08:39 WIB
Sejarah Letusan Gunung Krakatau hingga Lahirnya Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau. (BNPB)
A
A
A

JAKARTA - Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda, Lampung, mengalami erupsi pada Jumat 10 April 2020 malam, tepatnya pukul 22.35 WIB. Ketinggian kolom abu mencapai sekira 500 meter di atas puncak Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan pantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG,) hingga Sabtu (11/4/2020) pagi sekira pukul 05.44 WIB, letusan masih terus berlangsung.

Sebagai salah satu gunung api aktif, bukan hanya kali ini saja Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi. Bahkan, sejak masih bernama Gunung Krakatau, gunung api tersebut sudah kerap meletus.

Berikut sejarah letusan Gunung Krakatau hingga melahirkan Gunung Anak Krakatau, berdasarkan informasi dari halaman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sabtu (11/4/2020).

1680-1681

Gunung Krakatau tercatat pernah mengalami erupsi pada 1680. Pada saat itu, berdasarkan data, letusan terjadi sejak Mei 1680 hingga Mei 1681. Letusan yang berlangsung selama 1 tahun itu disertai leleran lava.

1883


Lama setelah tidak mengalami aktivitas vulkanik, pada 1883 Gunung Krakatau mengalami erupsi. Aktivitas gunung api ini diawali pada 20 Mei 1883, dengan diawali letusan Gunung Perbuatan. Kegiatan vulkanik itu menyebabkan letusan abu dan semburan uap hingga mencapai ketinggian 11 km. Suara dentuman kegiatan vulkaniknya bahkan terdengar hingga radius sejauh 200 km.

Rentetan kegiatan vulkanik berlanjut pada Juni, tepatnya di Gunung Danan. Kemudian erupsi kembali berlanjut hingga 26-28 Agustus, dengan puncaknya pada 27.

Saat itu, dentuman aktivitas vulkanik terdengar hingga wilayah Singapura dan Australia. Erupsi gunung menyemburkan batu apung dan abu hingga ketinggian 70 sampai 80 km dan endapannya menempati area 827 ribu km2.

Runtuhan tubuh gunung api itu menyebabkan tsunami dengan ketinggian gelombang 20 km. Tsunami tersebut menyapu pantai di Selat Sunda dan barat laut Jawa. Sebanyak 36.417 jiwa tewas akibat kejadian itu. Usai periode itu, gunung kembali mengalami letusan freatik pada September dan Oktober.

Setahun berselang pada Februari 1884, terjadi letusan freatik. Letusan itu merupakan kelanjutan dari aktivitas sebelumnya pada Oktober 1883.

1927-1930

Pada tahun ini tepatnya 29 Desember, terjadi kegiatan vulkanik baru di pusat kaldera, timur laut dasar kaldera yaitu di kedalaman 188 km dan dinyatakan sebagai kelahiran Gunung Anak Krakatau. Kawah baru tersebut satu garis dengan kawah-kawah Gunung Danan dan Perbuatan sebelumnya.

Gunung Anak Krakatau mengalami beberapa kali erupsi sepanjang 1928. Tercatat erupsi terjadi pada 5 Februari, 25 Maret, 2 Juni, 6-13 Juli, 25 Agustus sampai 4 September, 4-26 November, 11-20 Desember.

Gunung Anak Krakatau mengalami beberapa aktivitas vulkanik pada 1929, tepatnya yang terjadi pada 12 Januari-18 Februari, 6-13 Maret, 8-20 Juni, 25 Juli-25 Agustus, 19 September-7 Oktober, 7-23 Desember.

Aktivitas vulkanik juga terjadi pada 1930. Kali ini Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada 14-28 Januari, 10 Maret-5 April, 30 April-5 Mei, serta 2 Juni hingga 15 Agustus.

1931-1940

Terjadi danau kawah, erupsi abu dengan ketinggian hingga 2.400 meter serta erupsi samping pada 23-26 September, 5-7 November, serta 5-21 Desember.

Pada 1932, yakni 12-17 Februari terjadi erupsi yang merupakan kelanjutan dari peristiwa sebelumnya.

Erupsi di danau kawah juga terjadi pada 1933, tepatnya pada 16 Januari-25 Mei, 10-17 Juni, 5-6 Juli, 5 September-5 Oktober, 10 November-6 Desember.

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat 10 April 2020 malam. (Foto: Istimewa/PVMBG)

Pada 6-26 Januari 1934, terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau yang merupakan kelanjutan dari kegiatan vulkanik sebelumnya. Erupsi kemudian juga terjadi selama Maret, 5-12 Mei, 7-9 Juni, dengan ketinggian erupsi mencapai 6.800 meter.

Pada 1935, Terjadi erupsi abu dan erupsi freatik di danau kawah yang berukuran 275x250 meter persegi. Aktivitas vulkanik ini terjadi pada 4-14 Januari, 6 Februari-6 Mei, dan 25 Mei-12 Juli.

Pada 13 Oktober 1936, terjadi erupsi abu. Selama November tahun ini, tinggi tiang abu berkisar antara 100 hingga 300 meter.

Setahun berselang, erupsi terjadi di danau kawah pada 6 Agustu-21 September dengan tinggi abu mencapai 2.000 hingga 2.600 meter. Pada 17-23 November, terjadi erupsi kecil pada kawah baru.

Pada 1938, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi abu dan erupsi freatik di danau kawah pada 4 Juli-29 Agustus, 12-14 September, 2 Oktober, 7 November, 8-9 Desember.

Kemudian pada 1939, erupsi terjadi pada 15-27 Januari, 20 Maret, 1 Juni-4 Agustus, 23-25 September, 13 Desember.

Erupsi juga terjadi pada 1940, rinciannya pada 9 Januari, 3-10 Februari, 1 Maret-15 Mei, 10 Juni-2 Juli. Pada Juni tinggi letusan mencapai 1.000 hingga 4.000 meter,

1941-1950

Pada periode ini, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi di danau kawah setiap tahun.

 1952-1960

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi di danu kawah pada 10-11 Oktober. Aktivitas vulkanik ini membentuk kerucut baru dengan danau kawah bergaris tengah 440 meter.

Erupsi juga terjadi pada 1953 di danau kawah pada 20-23 September, dengan tinggi kerucut mencapai 116 meter.

Pada 1958, gunung hasil letusan dahsyat Krakatau ini juga meletus. Namun, tidak ada catatan pasti mengenai tanggal erupsi.

Pada 1959, erupsi di danau terjadi pada Juli-Juli. Ada 4 fase dalam erupsi ini, yaitu erupsi abu hitam, erupsi abu dan gas, erupsi abu, dan erupsi abu hitam.

Erupsi kemudian juga terjadi pada 1960, tepatnya 12-13 Januari dengan ketinggian asap mencapai 1.000 meter.

1961-1968

Suatu hari pada 1961, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi. Kegiatan ini melenyapkan danau kawah bulan sabit serta leleran lava mengisi kawah dan bibir kawah bagian timur.

Selanjutnya pada 1963, leleran lava menembus laut dan membentuk seperti kipas.

Aktivitas selanjutnya Gunung Anak Krakatau terjadi pada 1968. Pada tahun itu, gunung api tersebut mengalami erupsi freatik selama September.

1972-1973

Pada 1972, erupsi abu mencapai ketinggian 1.600 mtere. Erupsi terus terjadi pada 26 Juni, 21-22 Desember, dan 29 Desember. Kegiatan ini berlanjut hingga Januari 1973. Pada 1973, aktivitas diakhiri dengan leleran lava ke arah selatan, barat daya, dan barat, menembus laut sehingga memperluas daratan.

1975-1979

Erupsi terus terjadi pada 1975 dengan diakhiri leleran lava ke arah barat-barat laut. Begitu pula dengan 1979, erupsi terjadi sepanjang tahun dengan diakhiri leleran lava ke arah barat daya.

1981-1988

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi abu pada Februari hingga Juli. Aktivitas ini diakhiri dengan leleran lava ke arah selatan dengan menindih lava pada 1973.

Pada pertengahan 1984, gunung api ini juga meletus. Namun tidak diketahui tanggal pastinya.

Pada 1988, Gunung Anak Krakatu mengalami erupsi abu pada 16-18 Maret hingga membentuk kawah baru di lereng selatan. Aktivitas vulkanik ini diagiri dengan leleran lava terbatas pada lereng selatan.

1992-2000

 

Pada periode ini, Gunung Anak Krakatu mengalami erusi hingga 2000. Erupsi terus-menerus terjadi tahun 20000 dengan menyemburkan abu setinggi 400-800 meter dan leleran lava.

Leleran lava terjadi pada November-Desember 1992, April-Mei dan Juni 1993, Januari, Juni dan Jui 1996.

Leleran lava itu menambah daratan pulau. Material yang disemburkan selama itu berupa ava dan material lepas adalah 22 juta m3 dan penambagan daratan 380.000 m2. Tinggi Gunung Anak Krakataun mencapai 305 m dml.

2001-2010

Gunung Anak Krakatu mengalami erupsi abu pada 5 Juli. Pada 2005, gunung api ini mengalami erupsi pada 24-26 September.

Selanjutnya pada 20-22 Oktober 2007, Gunung Anak Krakatau mengalami aktivitas kegempaan yang meningkat. Pada 23 Oktober 2007, saat terjadi erupsi, mengakibatkan lubang letusan baru di dinding selatan Gunung Anak Krakatau.

Erupsi juga terjadi pada 2008. Letusan abu diserray lontaran pijar dengan ketinggian 100-500 meter terjadi April.

Pada Oktober 2010, Gunung Anak Krakatu mengalami letusan abu dengan ketinggian asap berkisar 100 hingga 1.700 meter.

2018

Pada Juni-Desember 2018, Gunung Anak Krakatu mengalami erupsi. Letusan pertama terjadi pada 18 Juni sebanyak 576 kali dan 30 Juni sebanyak 745 kali.

Bulan selanjutnya pada 3 sampai 4 Juli 2018, mengalami erupsi sebanyak 227 kali mengeluarkan abu pasir dan lava pijar yang keluar dari kawah.

Pada 3 Agustus 2018 tepatnya di Gunung Selat Sunda terjadi 227 kali letusan yang melontarkan abu, pasir dan lava pijar. Sehingga memasuki zona bahaya dengan tinggi kolom mencapai 100-200 meter. Bulan selanjutnya, 25 September 2018 Anak Krakatau meletus sebanyak 99 kali muntahan lava pijar sampai ke laut.

Kemudian, pada 5-6 Oktober 2018 sebanyak 348 kali letusan erupsi setinggi 100-200 meter yang berstastus waspada (level II) karena adanya sinaran api dan dentuman dari Anak Krakatau.

Letusan kembali terjadi pada 10 November 2018 sebanyak 185 kali dengan ketinggian 300-800 meter. Pada akhirnya, 22 Desember 2018 sekira pukul 21.03 WIB Gunung Anak Krakatau memuntahkan tiang debu setinggi 1.500 meter di atas puncak. Letusan Gunung Anak Krakatau ini pun memicu bencana tsunami yang menerjang pantai di Selat Sunda. (erh)

(Amril Amarullah (Okezone))

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement