Ia melanjutkan, kemudian juga adanya kesan kurang kompak antara pemda dan pemerintah pusat menjadi faktor PSBB di Jakarta kurang efektif. Seperti halnya beberapa keputusan antara pemda dan pemerintah pusat yang kadang tidak seragam.
Sejatinya, lanjut Hermawan, PSBB di Jakarta harus menjadi contoh bagi wilayah lainnya. Mengingat kasus pandemi virus corona terjadi di 34 provinsi.
"Jakarta harus menjadi pembelajaran seluruh wilayah Indonesia. Kalau gagal, maka gagal seluruh Indonesia. Tapi kalau sukses, daerah akan termotivasi di 34 provinsi," jelasnya.
DKI Jakarta sendiri telah memberlakukan periode pertama PSBB pada 10 April dan berakhir pada 24 April. Namun, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan telah mengumkan PSBB di wilayahnya ditambah hingga 22 Mei.
(Hantoro)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.