Tuduhan Santet, 3 Warga Sampang Lakukan Ritual Sumpah Pocong

Syaiful Islam, Okezone · Kamis 25 Juni 2020 03:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 25 519 2235921 tuduhan-santet-3-warga-sampang-lakukan-ritual-sumpah-pocong-JbHtHehkmb.jpg Sumpah pocong (Ist)

SURABAYA - Tiga warga melakukan ritual sumpah pocong di Masjid Madegan, Kelurahan Polagan, Kecamatan Kota, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur lantaran perkara isu tuduhan kepemilikan santet, Rabu (24/6/2020).

Penuduh Abdus Sarip (55) dan tertuduh Bu Suranten (60). Keduanya warga Dusun Marombuk Timur, Desa Tebanah, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang. Tiga warga yang melakukan ritual sumpah pocong Suranten (60), Misriyah (71), dan Hikmah (21).

Putra Suranten tertuduh pada isu santet, Juhari menceritakan, putri penuduh bernama Hikmah pergi silaturahmi ke rumah tertuduh pada acara kenduri atau selamatan. Pulangnya, Hikmah membawa bekal makanan yang diberi tuan rumah.

"Sampai di rumah, bekal yang dibawa pulang dimakan. Lalu Hikmah mengalami panas badan dan sakit tenggorokan," kata Juhari.

Setelah itu, Hikmah pergi ke rumah orang tuanya memberi tahu jika sakit yang diderita tidak wajar. Keluarga penuduh melakukan pemeriksaan melalui dukun.

"Keterangan dari dukun, ada penyakit yang baru masuk. Sehingga keluarga kami dituduh memiliki ilmu santet," ujarnya.

Keluarga penuduh Abdus Sarip membenarkan, jika putrinya bernama Hikmah sempat makan bekal nasi yang dibawa pulang dari rumah tertuduh usai acara selamatan.

"Setelah makan, tenggorokan anak sakit dan ada sesuatu yang bergerak. Setelah diperiksa kepada seorang dukun, ada penyakit yang masuk," terang Sarip.

Sarip yang ada ikatan keluarga yakni saudara sepupu dengan anak tertuduh itu, mengaku penyakit yang diderita Hikmah masih ada reaksinya. "Dari dukun, penyakitnya masih ada," ungkapnya.

Pelaksana sumpah pocong pada isu santet atau sihir, Hasin Abdul Hamid, melakukan mediasi terhadap keluarga tertuduh dan penuduh terlebih dahulu. Tujuannya untuk memberikan pencerahan supaya tradisi sumpah pocong bukan menjadi pilihan utama dalam menyelesaikan masalah sosial ini.

"Kami mediasi dulu antar tertuduh dan penuduh. Apakah bisa selesai tanpa sumpah pocong atau mereka benar-benar siap menerima segala risiko dari sumpah pocong," ucap Takmir Masjid Madegan ini.

Balasan dari sumpah pocong, di antara mereka yang terbukti bersalah dapat mengalami gejala atau reaksi sakit paling singkat dua pekan dan paling lama sampai 40 hari. "Terkadang mereka mengalami sakit, bahkan sampai meninggal dunia," tuturnya.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini