Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sepanjang Juni, Telah Terjadi 174 Gempa di NTT

Adi Rianghepat , Jurnalis-Kamis, 02 Juli 2020 |13:20 WIB
Sepanjang Juni, Telah Terjadi 174 Gempa di NTT
Ilustrasi
A
A
A

KUPANG - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat kejadian gempabumi sebanyak 174 kali terjadi di daerah berbasis kepulauan itu.

Bahkan dari jumlah tersebut terdapat 4 kali guncangan yang dirasakan warga di daerah itu. Data tersebut adalah akumulasi kejadian gempa sepanjang Juni 2020, sebagaimana yang ditulis Stasiun Geofisika Kupang dalam rilisnya, Kamis 2 Juli 2020.

Meskipun capai 174 kali gempa, namun menurut BMKG jumlah tersebut jauh lebih rendah dari kejadian gempa pada Mei 2020 sebanyak 211 kali gempa namun mengalami peningkatan kejadian dirasakan dibandingkan bulan sebelumnya.

"Mei terjadi 1 Kejadian dirasakan," tulis BMKG.

Disampaikan juga bahwa gempabumi yang terjadi didominasi oleh gempabumi berkekuatan kecil (M< 4,0) sebanyak 162 kejadian dan berkedalaman dangkal (<60 Km) sebanyak 133 kejadian. Aktivitas gempabumi tertinggi terjadi pada 7 Juni 2020 dengan 14 kejadian.

Ilustrasi

Sementara itu Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Sholakhudin Noor terpisah menyampaikan bahwa pihaknya telah memasang peralatan prmantau gempa dan tsunami di 19 titik lokasi. Peralatan pencatat itu bernama warning receiver system (WRS) generasi baru.

Peralatan tersebut katanya akan menyampaikan kejadian gempa bumi dan tsunami yang kapan saja terjadi di daerah provinsi selaksa nusa itu.

Dia menyebut 19 titik pemasangan WRS generasi baru itu antara lain berada di Stasiun Geofisika Kupang, BPBD Flores Timur, BPBD Manggarai Barat serta BPBD Ende. Selain itu juga dipasang di BPBD Nagekeo, BPBD Manggarai, Kantor Bupati Ngada, dan BPBD Sumba Barat Daya.

"Diharapkan tujuan awal dari pemasangan 'WRS New Gen' tersebut dapat berjalan secara maksimal sehingga dampak dari bahaya bencana gempabumi yang terjadi dapat diminimalisir," katanya.

Menurut dia, Provinsi NTT adalah daerah yang dikenal memiliki tingkat kejadian gempabumi yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena wilayah Nusa Tenggara Timur termasuk dalam zona transisi akibat adanya pertemuan tiga lempeng tektonik besar yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng Indo-Australia.

Dia menyebutkan, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, telah tercatat lebih dari 990 kejadian gempa yang didominasi oleh gempa dengan magnitude > 4,0. "Kondisi inilah yang mendorong BMKG NTT melakukan aksi ini," katanya.

Dia mengatakan, penyebaran informasi bencana gempabumi dan tsunami menjadi salah satu tugas penting dari BMKG, sehingga peningkatan terhadap layanan ini terus dilakukan.

Salah satu peralatan yang digunakan adalah WRS yang merupakan salah satu alat untuk penyebaran informasi gempabumi dan tsunami melalui komputer BMKG kepada komputer institusi lokal (pemerintahan, TNI, POLRI, media televisi, radio dll) dengan pendaftaran IP Address.

Peningkatan dilakukan dengan merilis WRS New Gen (Warning Receiver System New Generation) berupa smart display sehingga informasi dapat disebarluaskankan secara real-time.

"Peralatan ini diharapkan dapat menjamin penyebaran informasi di daerah potensi gempabumi dan tsunami menjadi lebih cepat sehingga para stakeholder dapat mengambil langkah penting pada saat terjadi bencana," kata Sholakhudin Noor.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement