Sidang Vonis Pelaku Penembakan Masjid Selandia Baru Akan Digelar 24 Agustus 2020

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 03 Juli 2020 11:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 03 18 2240568 sidang-vonis-pelaku-penembakan-masjid-selandia-baru-akan-digelar-24-agustus-2020-53XKmB1Vsn.jpg Brenton Tarrant akan menjalani sidang vonis pada 24 Agustus 2020. (Foto: Reuters)

WELLINGTON - Sidang vonis bagi pelaku penembakan massal di masjid Selandia Baru yang menewaskan 51 jamaah Muslim akan dimulai pada 24 Agustus. Hal itu diumumkan pengadilan Selandia Baru pada Jumat (3/7/2020).

Warga Australia Brenton Tarrant awal tahun ini mengaku bersalah atas 51 tuduhan pembunuhan, 40 tuduhan percobaan pembunuhan dan satu tuduhan melakukan tindakan teroris terkait serangan di dua masjid di Christchurch, pulau selatan Selandia Baru.

Hakim Cameron Mander mengatakan persidangan diperkirakan berlangsung tiga hari, tetapi akan berlangsung selama diperlukan, demikian diwartakan Reuters.

Tarrant telah ditahan polisi sejak 15 Maret 2019, ketika ia ditangkap dan dituduh menggunakan senjata semi-otomatis untuk menargetkan umat Islam yang menghadiri sholat Jumat di Masjid Al Noor dan Linwood Islamic Centre. Aksi Tarrant itu tercatat sebagai penembakan massal terburuk yang pernah terjadi sepanjang sejarah Selandia Baru.

Pria berusia 28 tahun itu telah merencanakan untuk mengajukan banding terhadap dakwaannya, tetapi mengubah pembelaannya menjadi bersalah pada Maret tahun ini.

Hakim Mander mengatakan pengaturan akan dibuat untuk memungkinkan para korban dan anggota keluarga saat ini berbasis di luar negeri, dan tidak dapat melakukan perjalanan ke Selandia Baru, untuk melihat pembacaan vonis dari jarak jauh.

Perbatasan Selandia Baru tetap tertutup bagi orang asing, dan warga Selandia Baru yang kembali harus tetap di karantina selama 14 hari, karena pemerintah berupaya membatasi penyebaran pandemi virus corona.

Penahanan Tarrant diperpanjang untuk menemukan tanggal yang sesuai setelah semua pembatasan Covid-19 dicabut. Namun Mander mengatakan, menunggu perubahan kontrol perbatasan kemungkinan akan menghasilkan periode penundaan yang sangat lama.

"Finalitas dan penutupan dianggap oleh beberapa orang sebagai cara terbaik untuk membawa bantuan kepada komunitas Muslim," katanya.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini