Share

Pangeran Qatar Diberikan Gelar Master USC Meski Hampir Tak Pernah Kuliah

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 23 Juli 2020 14:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 23 18 2250921 pangeran-qatar-diberikan-gelar-master-usc-meski-hampir-tak-pernah-kuliah-mmpwvKdqKe.jpg Pangeran Qatar Sheikh Khalifa bin Hamad bin Khalifa Al Thani. (Foto: Daily Mail)

SEORANG pangeran Qatar dianugerahi gelar Master dari University of Southern California (USC), yang merupakan perguruan tinggi bergengsi di Amerika Serikat (AS), meskipun nyaris tidak pernah datang ke kelas. Hal itu terungkap dalam sebuah investigasi oleh Los Angeles Times.

Sheikh Khalifa Bin Hamad Bin Khalifa Al Thani, lulus dari USC dengan gelar sarjana pada 2015 dan kemudian menerima gelar Master dalam diplomasi publik. Namun, menurut penyelidikan LA Times, sang pangeran, yang merupakan saudara dari emir Qatar saat ini, hampir tidak menginjakkan kaki di kampus atau menghadiri kelas-kelas.

Al Thani menghindari kelas dengan mengutip "alasan keamanan" dan diberi "dispensasi khusus" untuk menempuh pendidikan pascasarjananya dari jarak jauh di Eropa, demikian dilaporkan LA Times. Namun, "dispensasi khusus" semacam itu belum pernah, dan tidak pernah lagi, diberikan kepada siswa USC.

BACA JUGA: Pangeran Qatar Diserang Penduduk Desa Saat Berburu Burung Langka

Alih-alih kuliah, sang pangeran justru menjalani gaya hidup mewah yang melibatkan perjudian, yang ilegal di Qatar, berpesiar dengan perahu, terjun payung, dan mengendarai mobil sport mahal. Al Thani dilaporkan tinggal di Hotel Beverly Wilshire selama masa studinya, dengan karyawannya tinggal di kamar seharga USD600 (sekira Rp8,7 juta) per malam.

"Dari saat Al Thani turun dari pesawat, seluruh ekonomi dengan cepat tumbuh di sekitarnya untuk memenuhi keinginan dan permintaannya," tulis LA Times.

BACA JUGA: Nyawanya Terancam Karena Mengkritik Penguasa, Seorang Pangeran UEA Kabur ke Qatar

Al Thani dijaga oleh sejumlah karyawan termasuk "sopir, detail keamanan, petugas, pelatih, perawat, dan fixer pemecah semua masalah. Bahkan, menurut beberapa anggota fakultas USC, dia juga mempekerjakan seorang mahasiswa pascasarjana yang menjabat sebagai “sherpa” akademisnya.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa para “pembantu” sang pangeran Qatar, termasuk seorang profesor USC, menerima hadiah mewah sebagai imbalan karena membiarkan Al Thani melanggar peraturan universitas dan muncul di daftar dekan hingga tiga kali.

LA Times melaporkan seorang profesor USC menerima Rolex seharga USD12.500 bersama dengan makalah akhir Al Thani untuk kuliahnya. Profesor itu berusaha mengembalikan barang itu tetapi ternyata sudah terdaftar atas namanya.

Pengacara Al Thani, David Keyko menulis surat kepada LA Times, menyebut laporan itu telah “menimbulkan kecurigaan, anggapan dan berbagai tingkat desas-desus tentang hal-hal yang, jika terjadi sama sekali, terjadi bertahun-tahun yang lalu."

Dugaan mengenai aktivitas kuliah sang pangeran pertama kali terungkap setelah LA Times dilaporkan menerima tip untuk melihat pendidikan Al Thani di USC setelah skandal penerimaan mahasiswa di universitas itu tahun lalu.

Skandal yang tidak melibatkan Al Thani atau keluarganya itu mengungkap dugaan bahwa anak-anak yang tidak memenuhi syarat telah diterima di universitas yang mereka inginkan karena orangtua mereka yang kaya raya terlibat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini