Okezone memeroleh keterangan dari salah satu wartawan yang kerap main mata dengan pihak sekolah untuk siswa titipan. Oknum berinisial OR itu mengakui, bahwa untuk titipan 1 siswa dia mendapat keuntungan bersih berkisar antara 5 hingga 8 juta. Sedangkan sisanya harus dibagi ke pihak sekolah untuk membantu proses pembangunan.
"Tergantung kita negonya, kalau dia lita lihat orang mampu bisa sampai 15 jutaan. Tapi nanti kan dibagi-bagi, bersih sampai kita 8 jutaan. Siswanya sudah pasti masuk," terangnya.
Kalangan oknum-oknum itu biasa menyebut istilah siswa titipan itu dengan kalimat "titip anak embe". Mereka saling kenal satu sama lain, meskipun memiliki latar belakang profesi berbeda. Jejak mereka sulit diendus, lantaran hanya sedikit orang yang mengetahui akses jaringan tersebut.
Sementara, Pengamat Pendidikan dari Universitas Multimedia Nusantara, Doni Kusuma, menyebut, praktik siswa titipan seperti itu sebenarnya terjadi juga di daerah lain dengan modus yang sama. Tapi di Provinsi Banten, khususnya Kota Tangsel dan Kota Tangerang menjadi hal yang biasa dilakukan.
"Kalau di SD modusnya titip bangku. Harganya untuk SD antara 500 sampai 1 juta kalau mau masuk SD favorit. Iya, memang banyak. Dibagi-bagi ke komite, anggota dewan, wartawan, dan lain-lain, banyak. ini sudah biasa. Modus titip bangku atau jual beli ini akan selalu ada selama pengelola sekolah tidak berintegritas," katanya terpisah.
Ditambahkan dia, untuk jenjang SMA Negeri maka tarif 1 siswa titipan bisa mencapai Rp15 hingga Rp20 jutaan jika ingin masuk sekolah favorit. Kondisi demikian membuat suram masa depan pendidikan di Indonesia, lantaran sejak di bangku sekolah sudah diperkenalkan praktik ilegal.
"Pemerintah harus tegas dalam hal ini. Karena ini merugikan hak hak pendidikan rakyat," tandasnya.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.